Bahan Pelajaran Sekolah Sabat dapat dibuka disini. untuk mencari tanggal yang anda inginkan cari di kotak serch.

Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan padamu.

Cara berbagi Pelajaran Sekolah Sabat ke teman Facebook
Klick Disini

Selasa, 07 September 2010

Selasa, 7 September 2010

Cabang Yang Dicangkokkan

Baca Roma 11:11-15. Harapan besar apakah yang Paulus suguhkan dalam ayat-ayat ini?

Dalam ayat-ayat ini, kita temukan dua pernyataan yang sejajar: (1) “kesempurnaan mereka [orang Israel]” (ay. 12), dan (2) “penerimaan mereka [orang Israel]” (ay. 15). Palus melihat pengurangan dan penolakan tersebut hanyalah sementara dan akan diikuti dengan kesempurnaan dan penerimaan. Inilah jawaban kedua Paulus kepada pertanyaan yang ditimbulkan di awal pasal ini. “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Apakah yang tampaknya seperti penolakan, katanya, hanyalah satu situasi sementara.

Baca Roma 11:16-24. Apakah yang dikatakan Paulus kepada kita dalam ayat ini?

Paulus mengibaratkan umat sisa yang setia di Israel dengan sebatang pohon zaitun, yang beberapa cabangnya telah dipatahkan (mereka yang tidak percaya)—sebuah ilustrasi yang digunakannya untuk membuktikan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya” (ay. 2). Akar dan batangnya masih ada.
Kepada pohon ini orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain telah dicangkok. Tetapi mereka mengisap sari makanan dan kehidupan mereka dari akar dan batang pohon itu, yang melambangkan orang Israel yang percaya.
Apa yang terjadi pada mereka yang menolak Yesus dapat juga terjadi pada bangsa-bangsa lain yang telah percaya. Alkitab tidak mengajarkan doktrin “sekali selamat tetap selamat.” Sebagaimana keselamatan ditawarkan dengan Cuma-cuma, maka itu juga dapat ditolak dengan Cuma-cuma. Sekalipun kita harus berhati-hati untuk berpikir bahwa setiap kita jatuh kita berada diluar keselamatan, atau bahwa kecuali kita sempurna kita tidak diselamatkan, kita perlu mencegah ajaran yang sebaliknya juga—gagasan bahwa sekali kasih karunia Allah melingkupi kita, tidak ada yang dapat kita lakukan, tidak ada pilihan yang dapat kita buat, yang akan merebut dari kita jaminan keselamatan itu. Pada akhirnya, hanya mereka yang “tetap dalam kemurahan-Nya” (ay. 22) yang akan diselamatkan.
Janganlah seorang percaya pun bermegah dalam kebaikannya atau merasa lebih tinggi dari sesamanya. Keselamatan kita bukanlah didapatkan dengan usaha; itu adalah sebuah pemberian. Di hadapan Salib, di hadapan standar kesucian Allah, kita semua setara: orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia Ilahi, orang berdosa yang membutuhkan kescian yang bisa menjadi milik kita hanya didalam Yesus dan apa yang sudah dilakukan-Nya bagi kita oleh datang ke dunia ini dalam tubuh manusia, menderita segala celaka kita, mati karena dosa-dosa kita, memberikan kita satu contoh bagaimana seharusnya kita hidup, dan menjanjikan kita kuasa untuk menjalankan kehidupan seperti itu. Dalam semuanya itu, kita mutlak bergantung pada-Nya, karena tanpa Dia kita tidak akan memiliki pengharapan melebihi yang ditawarkan dunia ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar