Bahan Pelajaran Sekolah Sabat dapat dibuka disini. untuk mencari tanggal yang anda inginkan cari di kotak serch.

Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan padamu.

Cara berbagi Pelajaran Sekolah Sabat ke teman Facebook
Klick Disini

Rabu, 29 September 2010

Selasa 28 September 2010

DARI KEMENANGAN KE "ZAMAN KEGELAPAN"

Untuk sisa pekan ini kita akan melihat lebih dekat beberapa periode penting dalam sejarah Israel yang akan berfungsi sebagai latar belakang bagi semua individu yang akan kita pelajari. Kita mulai dengan masuknya Israel ke Tanah Perjanjian.

Sesudah perbuatan Tuhan yang dahsyat selamat Keluaran dan perjalanan di padang gurun, bangsa Israel untuk kedua kalinya telah mencapai perbatasan Tanah Perjanjian. Di bawah pemimpin baru mereka, Yosua, mereka sudah akan menyeberangi Yordan melalui tanah kering (Yos 3:16,17), satu mukjizat yang menggemakan peristiwa penyeberangan Laut Merah di saat Keluaran (Kel. 14).

Bacalah Yosua 3:9-17. Apakah tujuan dari mukjizat ini?

Kanaan bukan dikuasai Israel karena kepintaran militer Yosua atau usaha Israel yang gagah berani. Kemenangan atas penduduk kota Kanaan dicapai hanya melalui kuasa campur tangan Tuhan. Ketika Israel patuh, Tuhan memberikan kemenangan; tetapi, ketika Israel hanya bergantung pada kekuatannya sendiri, mereka gagal tanpa harapan.

Sesudah kematian Yosua dan orang-orang tua yang lain, beberapa bagian Tanah Perjanjian masih diduduki oleh bangsa Kanaan (Hak 1:27,28). Sepertinya iman Israel lebih hari lebih menyusut sebagaimana visi mereka juga menyusut. Gantinya melihat Tanah Perjanjian secara keseluruhan mereka menjadi sibuk dengan penghidupan mereka dan kehilangan visi yang lebih besar dan idaman yang Tuhan maksudkan bagi Israel sebagai suatu bangsa. Banyak pakar menamakan abad-abad berikutnya sebagai zaman kegelapan Israel.

Bacalah Hakim-hakim 17:6. Iklim moral seperti apakah yang diungkapkan ayat ini?

Ketika kita hehilangan gambaran yang lebih besar mengenai rencana Tuhan bagi kita, hal-hal yang kecil menjadi besar. Israel kehilangan perspektifnya sebagai bangsa; kesukuan mengambil alih. Di dalam seluruh buku Hakim-hakim, beragam suku dan kaum bersedia dan ingin memerangi sesama. praktik-praktik keagamaan dilebur menurut kenyamanan pribadi, dan kompromi dengan budaya sekitarnya meluas. Menurut buku Hakim-hakim, ini disebabkan kawin campur dengan Bangsa Kanaan yang masih hidup di negeri itu (Hak 3:3-7). Sebagai akibat dari kemerosotan rohani ini, Israel tergelincir ke dalam siklus dominasi kekuasaan asing, kemerdekaan, pemujaan berhala, dan sekali lagi, dominasi.

Apakah yang sangat berbahaya mengenai kompromi sehingga itu bisa datang dengan diam-diam, secara perlahan, dan hampir tidak kentara. Apakah cara hidup Anda sudah berubah dibandingkan dengan cara hidup Anda beberapa tahun yang lalu? Apakah perubahan-perubahan ini sebagai hasil dari kompromi?

Kamis. 30 September 2010

KEBODOHAN REHABEAM

Kematian Salomo menandai salah satu titik balik penting dalam sejarah Israel. Pendekatan administratif dengan tangan besi, undang-undang pengerahan tenaga kerja, dan percobaan-percobaan dalam kemajemukan agama semuanya menuju pada ketegangan besar pada awal pemerintahan Rehabeam, putra Salomo.

Bacalah 1 Raj-raja 12:1-16 dan cobalah untuk menangkap darama dari situasi tersebut. Dengan melihat kepemimpinan Rehabeam, apakah yang kita pelajari daricerita ini mengenai sikap kita terhadap kekuatan apa pun yang kita miliki dalam situasi kehidupan yang berbeda-beda? Apakah yang dapat kita pelajari dari kesalahan yang diperbuatnya?

Sesudah perpecahan Yehuda dan Israel, umat Tuhan yang tadinya bersatu mulai berpisah dengan cara yang berbeda-beda. Melihat pusat perbaktian, pengorbanan, dan pemujaan berada di Yehuda, maka Raja Yerobeam I dari Israel membuat dua lembu emas (1 Raj. 12:26-29) dan mendirikan dua tempat ibadah dengan mezbah, satu di Betel dan yang satunya lagi di Dan. Semuanya tidak terlihat begitu baik bagi Israel,selama dua ratus tahun beriktunya Bangsa Israel mempunyai pengalaman bagaikan naik roller-coaster, naik - turun dengan tiba-tiba. beberapa raja mengikuti (paling kurang dengan setengah hati_ panggilan Tuhan untuk bertobat; yang lain dengan keras kepala menolak seruan para nabi. Dinasti-dinasti berubah, dan begitu banyak pembunuhan berbau politik yang terjadi. Dua puluh raja berkuasa sejak Yerobeam I sampai pada raja terakhir Israel di Samaria, Hosea, memberi isyarat akan kondisi kerjaan yang tidak stabil. Akhirnya, tahun 722 S.M. Samaria direbut oleh bangsa Asyur dan Israel dibawa ke dalam penawanan.

Di sisi sebelah perbatasan, situasinya tidak lebih baik. Dinasti Daud tetap berlangsung, tetapi tidak semua keturunan Daud yang bisa menyamai iman dari leluhur mereka. Ada raja, sperti Yosafat, Hizkia, dan Yosia, berusaha untuk kembali kepada Tuhan dan dalam proses itu juga membawa orang Yehuda ke dalam pertobatan penuh. Usaha-usaha mereka dibantu oleh puluhan nabi yang berbicara di dalam situasi-situasi tertentu mengenai kebutuhan-kebutuhan rohani dan sosial Bangsa Yehuda.

Tahun 586 S.M. Yerusalem jatuh ke tangan Babel. Para pemimpin dan banyak dari penduduk kota dibawa ke Babel. Bait suci Tuhan dihancurkan. "Percobaan" kerajaan telah tiba pada akhirnya.

Seseorang dapat berpikir bahwa dengan bencana penghancuran dan penawanan bangsa Babel, menjadi akhir dari Bangsa Yahudi. Apakah yang diceritakan oleh pemulihan mereka mengenai kesabaran dan kemurahan Tuhan? Pernahkah Anda melihat kesabaran dan kemurahan Tuhan? Pernahkah Anda melihat kesabaran dan kemurahan yang sama dalam kehidupan Anda? Bagaimanakah reaksi Anda terhadap kemurahan ini?


Rabu, 29 September 2010

MENGENAI PARA RAJA DAN PANGERAN

Walaupun begitu banyak yang sudah diberikan Tuhan, dan dijanjikan lebih banyak lagi seandainya mereka menurut, Bangsa Israel dipengaruhi secara negatif oleh kebudayaan di sekitar mereka. Sebagai contoh, mereka melihat di kerajaan -kerajaan sekitar sebuah struktur politik yang sangat berbeda. Semua bangsa ini mempunyai seorang raja. Dipadukan dengan fakta bahwa putra-putra Samuel tidak mengikuti perilaku dan kepemimpinan ayah mereka karena "mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan" ( 1sam 8:3, NKJV), para pemimpin suku israel merasa bahwa sudah waktunya untuk menunjuk seorang raja atas Israel (1 Sam 8:4,5). Samuel tidak begitu senang dengan keputusan itu tetapi disuruh Tuhan untuk menurut saja (1 Sam 8:7).

Saul dari suku Benyamin diurapi sebagai raja oleh Samuel (1 Sam 10:1) dan memulai kekuasaannya di Gibea. Namun, sebagaimana yang diramalkan Tuhan, semua tidak berjalan lancar bagi raja yang baru. Ketegangan antar suku tetap berlangsung. Keberadaan Bangsa Israel berada dalam bahaya karena tekanan dari kekuasaan-kekuasaan yang berada di sekelilingnya. Raja yang baru tidak berkomitmen untuk mengikuti persyaratan-persyaratan Tuhan (1 Sam 15:3,8,9) dan, sebagai hasilnya, Tuhan akhirnya menolak Saul.

Sesudah itu, Daud diurapi sebagai raja Israel yang akan datang. Seperti yang diharapkan, Saul tidak ingin memindahkan dengan begitu saja kekuasaanya kepada juara perang yang baru, Daud. Dekade berikutnya ditandai oleh perselisihan internal, dan Daud selalu dalam pelarian.

Perkembangan besar selanjutnya dalam sejarah Israel terjadi ketika Saul dan putra-putranya terbunuh dalam peperangan melawan Filistin (1 Sam 31:1-6). Daud dijadikan raja atas Yehuda, dan tujuh tahun kemudian, atas seluruh Israel. Daud mendirikan Yerusalem sebagai ibukota baru dari kerajaan yang bersatu. Tindakan-tindakan militernya yang luar biasa sangat sukses; dia memperluas batas-batas kerajaannya. Sesudah berkuasa selama empat puluh satu tahun, Daud wafat di Yerusalem (2Sam 5:4; 1 Raja 2:10, 11). Seperti kehidupan kita, pemerintahan Daud ditandai dengan kemenangan-kemenangan yang besar, beberapa pilihan yang buruk, dan begitu banyak kemurahan Tuhan. Dia diganti oleh putranya Salomo, yang juga memerintah selama empat puluh tahun (1 Raj. 11:42).

Salomo bukanlah seorang prajurit atau penakluk. Malahan, dia mencari dan menerima akal budi surgawi (1 Raj 3:3-13) ; dia membangun bait suci Allah di Yerusalem; dia merancang struktur-struktur administratif yang mengawasi dan mengatur Israel; tetapi, pada akhirnya hidupnya, dia berpaling dari Tuhan, mengikuti praktik-praktik agama dari istri-istrinya (1 Raj 11:1-8

Bacalah 1 Samuel 8:7-20. bagaimanakah bagian ini menunjukkan bahwa jalan-jalan Tuhan lebih baik daripada jalan manusia? Betapa seringnya kita mendapati diri kita melakukan hal yang sama, ingin melakukan hal-hal sesuai dengan jalan kita gantinya mengikuti jalan Tuhan?

Senin, 27 September 2010

Senin, 27 September 2010

Dimana dan Bagaimana?

Latar (Keterangan mengenai waktu tempat, keadaan) menunjukkan kenyatan dari cerita dan memberikan atmosfer dan suasana hati. contoh, mengapa, dalam Rut 4:1, 2. Boas menyampaikan kasus hukumnya di pintu gerbang dan tidak di rumahnya atau di rumah walikota Betlehem? Jelas, pintu gerbang adalah tempat yang paling umum di zaman dulu kala--menambahkan menambahkan sebuah elemen hukum yang penting dalam cerita ini. Latar juga dapat memberikan petunjuk bagi kita megenai periode waktu cerita itu terjadi. Jika kita mendengar sebuah cerita yang terjadi di dalam sebuah mobil atau di dalam terminal bandara udara, tanpa banayk berfikir kita bisa mengetahui bahwa erita tersebut tidak berasal dari zamannya Daud atau Martin Luther.

Bandingkan latar dari kedua cerita berikut ini: 1 Samuel 24:1-6 dan Kejadian 39:6-12. Bagaimana mengkontribusi kepada plot pada cerita tersebut?
____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________
____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________
____________________________________________________________________ ____________________________________________________________________ Latar dapat membantu kita untuk lebih emngerti tindakan dari cerita tersebut. Daud dan prajuritnya sendiri dengan Saul, yang tidak dilindungi dan sangat rentan. Latar cerita ini menyorot tabiat masyur dari Daud kita untuk lebih memahami tindakan dari cerita. David Davidntan. Pengaturan ini menyoroti karakter bintang Daud. Dia tidak memanfaatkan kesempatan ini ideal untuk melepaskan diri dari Saul sebelum Saul berusaha untuk melepaskan diri dari Daud, sebuah fakta yang mengungkapkan Daudenghormati pemimpin diurapi Tuhan.

Latar dalam cerita tentangYusuf juga menggambarkan . Yusuf seorang yang tampan dan memiliki posisi kekuasaan. Istri majikannya tergila-gila dengannya, dan mereka sendirian di dalam rumah. Yusuf, seperti Daud, menunjukkan tabiatnya yang masyur ketika menolak kesempatan itu.

Tetapi latar bukanlah satu-stunya elemen cerita yang penting. Kita harus melihat sudut pandang dari sang narator, yang iasanya menyediakan informasi yang penting bagi kita tetapi kadang kala juga menahan informasi. hal ini terutama berlaku dalam cerita-cerita sekular. Walaupun kita memiliki segi pandang terhadap cerita-cerita Akitab, kita harus membaca semua itu dengan asumsi bahwa mereka di ilhami oleh Roh Kudus dan kebenaran yang diungkapkan adalah kebenaran Allah.


Pikirkanlah mengenai Daud dan Yusuf dalam latar mereka. Betapa mudahnya mereka merasionalkan perbuatan yang melebihi erbuatan mereka. kenyataan semua itu tidak memberikan informasi yang banyak mengenai tabiat mereka. Berapa seringkah anda merasionalkan perbuatan-perbuatan yang salah?

Pelajara 1, Sabat, 25 September - 2 Oktober 2010

CERITA DAN SEJARAH

Sabat Petang


Rata PenuhBACAAN UNTUK PELAJARAN PEKAN INI : Kejadian 39:6-12; Yosua 3:9-17; 1 Samuel 24:1-6; 1 Raja-raja 12:1-16; Ayub 1:1-12

AYAT HAFALAN : "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik" (2 Timotius 3:16, 17, NET)

Walaupun banyak orang tidak memiliki minat yang besar untuk mempelajari sejarah, namun banyak orang menyukai cerita yang baik. Setiap peradaban kaya akan cerita-cerita yang menjelaskan (atau mengaku menjelaskan) asal usul, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan struktur-struktur kebudayaannya. Cerita-cerita ini, yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya, seringkali merupakan alat mengajar.

Dalam abad modern, kegiatan bercerita dikecilkan: orang-orang mencari fakta dan jawaban ilmiah untuk menjelaskan kehidupan. Namun, hanya fakta-fakta tidak bisa menjawab semua pertanyaan kehidupan kita. Dewasa ini, sebuah generasi baru, yang sering dinamakan "postmodern," telah menemukan kembali kuasa dari cerita.

Dengan demikian, Alkitab sangat kontemporer karena penuh dengan cerita. Bukan legenda, bukan "dongeng-dongeng isapan jempol manusia" (2 Ptr 1:16, ESV), tetapi cerita sejarah dan pribadi yang mengungkapkan kebenaran mengenai Tuhan dan interaksi-Nya dengan manusia yang telah tajuh. Cerita-cerita ini menggambarkan orang-orang yang nyata, berjuang dengan masalah-masalah kehidupan yang nyata dan berinteraksi dengan Tuhan yang hidup, yang menawarkan jawaban-jawaban atas masalah-masalah itu.

Setiap cerita membutuhkan waktu, tempat, dan keadaan. Minggu ini kita akan mempelajari keadaan-keadaan yang berbeda dan konteks sejarah mereka agar dapat lebih mengerti tokoh-tokoh yang akan kita pelajari sepanjang triwulan ini.

Senin, 20 September 2010

Jumat, 24 September 2010

SELANJUTNYA: Baca Ellen G. White, "Unity and Love in the Church," hlm. 477, 478; "Love for the Erring," hlm. 604-606, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; "Menolong yang Tergoda," hlm. 137, dalam Membina Keluarga Sehat, dan halaman 719 dalam The SDA Bible Commentary, jld. 6.

"Kepada saya ditunjukkan bahaya mengancam umat Allah dalam melihat pada Saudara dan Saudari White dan menyangka bahwa mereka harus datang kepada kami denganbeban-beban mereka dan meminta nasihat kepada kami. Janganlah kiranya seperti itu. Umat Allah diundang oleh Juruselamat mereka yang penuh belas kasihan dan kasih untuk datang kepada-Nya, bila mereka letih lesu dan berbeban berat, dan Dia akan melegakan mereka. . . . Banyak yang datang kepada kami dengan pertanyaan: Apakah saya harus lakukan ini? Apakah saya harus terlibat dalam urusan ini? Atau, dalam hal pakaian, apakah saya harus menggunakan potongan ini atau itu? Saya jawab mereka: Kamu mengaku sebagai murid-murid Kristus. Pelajari Alkitabmu. Baca dengan cermat dan penuh doa tentang kehidupan Juruselamat terkasih kita pada waktu Dia tinggal di antara manusia di atas bumi ini. Tirulah hidup-Nya, dan kamu tidak akan didapati menyimpang dari jalan yang sempit itu. Kami sama sekali menolak untuk menjadi hati nurani bagi kamu. Jika kami mengatakan pada kamu apa yang harus kamu lakukan, kamu akan berharap pada kami untuk menuntun kamu, gantinya kamu sendiri langsung datang pada Yesus." —Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 2, hlm. 118, 119.
"Tetapi jangan hendaknya kita memindahkan tanggung jawab kewajiban kita kepada orang lain, dan menunggu mereka mengatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Kita tidak boleh bergantung mengharapkan nasihat manusia. Tuhan akan mengajarkan kewajiban kita kepada kita sama relanya seperti Ia mau mengajar orang lain . . . . Mereka yang memutuskan tidak berbuat apa-apa dalam hal apa pun yang tidak menyenangkan Allah, akan mengetahui, sesudah menyampaikan persoalan mereka di hadapan-Nya, jalan mana yang harus ditempuh."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 310.
"Masih ada orang di dalam sidang yang tetap cenderung kepada kebebasan pribadi. Mereka tampaknya belum sanggup untuk menyadari bahwa kebebasan roh akan cenderung untuk memimpin umat manusia kepada banyak kepercayaan diri sendiri dan untuk mempercayakan pertimbangannya sendiri daripada menghormati nasihat dan menghargai setinggi-tingginya pertimbangan saudara-saudaranya."—
Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 139

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
  1. Dengan tema sepanjang pekan ini, bagaimanakah kita sebagai orang- orang Kristen menemukan keseimbangan yang tepat dalam: Setia pada apa yang kita percaya, namun tidak menghakimi orang lain yang melihat sesuatu berbeda dengan yang kita lihat?
  2. Setia pada hati nurani kita sendiri dan tidak berusaha menjadi hati nurani bagi orang lain, sementara dalam waktu yang sama berusaha menolong orang lain yang kita yakini sedang berada dalam kesalahan? Kapankah kita berbicara dan kapankah kita harus berdiam diri? Kapankah kita patut dipersalahkan jika kita berdiam diri?
  3. Merdeka dalam Tuhan namun tetap menyadari tanggung jawab kita menjadi teladan yang baik bagi mereka yang menghormati kita?

Kamis, 23 September 2010

Doa Berkat Yang Tepat

Baca Roma 15:1-3. Kebenaran Kristen penting apakah yang terdapat dalam ayat-ayat ini? Dalam hal apakah ayat-ayat ini menyatakan dengan jelas makna menjadi seorang pengikut Yesus? Ayat-ayat lain manakah yang mengajarkan hal yang sama? Terlebih penting, bagaimanakah Anda secara pribadi menghidupkan prinsip ini?
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________

Sementara Paulus mulai menutup surati ni, ucapan-ucapan berkat apakah yang disampaikannya? Rm. 15:5, 6, 13, 33.

Allah yang panjang sabar artinyaAllah yang menolong anak-anak-Nya untuk terus-menerus tabah. Kata untuk "kesabaran" hymomone, berarti "tabah," "ketekunan yang tetap." Kata untuk "penghiburan" bisa juga diterjemahkan "peneguhan hati."Allah sumber keteguhan hati adalahAllah yang memberi keteguhan hati. Allah pengharapan adalahAllah yang telah memberikan pengharapan bagi manusia. Demikian juga,Allah damai sejahtera adalahAllah yang memberikan damai sejahtera dan di dalam-Nya kita memperoleh damai sejahtera.

Betapa suatu ucapan berkat dalam sebuah surat yang tema utamanya adalah pembenaran oleh iman—keteguhan hati, pengharapan, damai sejahtera! Dunia kita sekarang ini sangat membutuhkan hal-hal tersebut. Setelah sejumlah salam pribadi, bagaimanakah Paulus menutup suratnya? Roma 16:25-27.

Paulus mengakhiri suratnya dengan suatu ungkapan pujian padaAllah. Yaitu Allah yang di dalam-Nya orang-orang Kristen di Roma, dan semua orang Kristen, dapat dengan aman menaruh percaya mereka untuk memastikan posisi mereka sebagai anak-anak tebusan Allah, dibenarkan oleh iman dan kini dituntun oleh Roh Allah.
Paulus digetarkan untuk menjadi jurukabar berita mulia ini. Dia menyebut berita ini "Injilku."Yang dimaksudkannya adalah Injil yang dikabarkannya. Tetapi apa yang dikhotbahkannya telah diteguhkan oleh khotbah Yesus dan pekabaran para nabi. Itu adalah rahasia, bukan karena Allah tidak mau manusia mengetahuinya, melainkan karena manusia menolak terang dari surga, mencegah Allah memberikan mereka terang selanjutnya. Selain itu, ada beberapa aspek dari rencana itu yang tidak dapat dimengerti oleh manusia hingga Mesias datang dalam rupa manusia. Dia memberikan satu pertunjukan bukan saja seperti apa Allah itu tetapi juga apa jadinya manusia oleh berpegang pada kuasa Ilahi.

Jenis kehidupan yang baru ditandai dengan "ketaatan iman"; yaitu, penurutan yang bersumber dari iman dalamTuhan, yang melalui kasih karunia membenarkan orang-orang berdosa oleh kebenaran yang diberikan kepada semua orang yang mau memintanya bagi diri mereka.

Rabu, 22 September 2010

Pemeliharaan Hari-hari

Dalam pembahasan tentang tidak menghakimi orang lain yang boleh jadi mempunyai penilaian berbeda dari kita, dan tidak menjadi batu sandungan kepada orang lain yang mungkin tersinggung oleh tindakan kita, Paulus menyinggung juga masalah hari-hari khusus yang dipelihara oleh sebagian orang dan orang lain tidak.

Baca roma 14:4-10. Bagaimanakah kita memahami apa yang Paulus katakan di sini? Apakah ayat ini berkaitan dengan perintah keempat? Jika tidak, mengapa?

Tentang hari apakah Paulus berbicara? Apakah ada pertentangan di gereja mula-mula mengenai memelihara atau tidak memelihara hari-hari tertentu? Tampaknya begitu. Ada petunjuk bagi kita tentang pertentangan itu dalam Galatia 4:9, 10, di mana Paulus menegur keras umat Kristen Galatia dalam memelihara "hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun." Sebagaimana kita lihat dalam pelajaran 2, beberapa orang di jemaat itu telah membujuk orang-orang Kristen Galatia untuk disunat dan memelihara aturan-aturan hukum Musa. Paulus takut jika gagasan-gagasan ini bisa membahayakan jemaat Roma juga. Tetapi mungkin di Roma orang-orang Kristen Yahudilah yang meyakinkan diri mereka bahwa mereka
tidak perlu lagi memelihara upacara-upacara Yahudi. Di sini Paulus berkata, Lakukanlah seperti yang kalian ingin dalam hal ini, yang penting janganlah menghakimi mereka yang melihat hal ini berbeda dari yang kamu lihat. Beberapa orang Kristen, tampaknya, agar berada dalam posisi aman, memutuskan untuk memelihara satu atau beberapa hari raya Yahudi. Nasihat Paulus adalah, Biarkan mereka lakukan itu, jika mereka yakin harus melakukannya.
Untuk menempatkan Sabat mingguan dalam Roma 14:5, sebagaimana dikemukakan sebagian orang, tidaklah tepat. Dapatkah Paulus menganjurkan sikap bertentangan terhadap perintah keempat? Sebagaimana yang telah kita lihat sebelumnya, Paulus sangat menekankan penurutan pada hukum, jadi tentu saja dia tidak akan menempatkan perintah Sabat dalam kategori yang sama sebagaimana yang dilakukan mereka yang terlalu ketat dalam hal makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Namun demikian pada umumnya ayat-ayat ini digunakan sebagai contoh untuk menunjukkan bahwa Sabat hari ketujuh sudah tidak lagi berlaku, padahal bukan itu maknanya.
Ayat-ayat ini digunakan sebagai satu contoh utama dari yang diamarkan Petrus tentang yang dilakukan oleh banyak orang dengan tulisan-tulisan Paulus: "Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri." (2 Ptr. 3:16).

ApakahpengalamanAndaselamainidenganSabat?Apakahitutelahmenjadi berkat seperti yang dimaksudkan? Perubahan apakah yang dapatAnda buat untuk mengalami lebih penuh apa yang Allah tawarkan dalam hari Sabat?

Selasa, 21 September 2010

Tidak Membuat Tersinggung

Baca roma 14:15-23 (lihat juga 1 Kor. 8:12, 13). rangkumkan di bawah ini inti pekabaran Paulus. Prinsip apakah yang dapat kita ambil dari ayat-ayat ini yang dapat diterapkan dalam segala segi kehidupan kita?

Dalam ayat 17-20 Paulus menampilkan berbagai aspek Kekristenan ke dalam sudut pandang yang sebenarnya. Sekalipun makanan itu penting, orang-orang Kristen tidak boleh bertengkar tentang pilihan sebagian orang yang hanya mau makan sayur-sayuran gantinya daging yang boleh jadi sudah dipersembahkan pada berhala. Sebaliknya, mereka harus fokus pada kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita di dalam Roh Kudus. Bagaimanakah kita dapat menerapkan gagasan ini pada masalah-masalah tentang makanan di gereja kita sekarang? Betapapun banyaknya pekabaran kesehatan, khususnya ajaran-ajaran tentang pola makan, bisa menjadi berkat bagi kita, tidak semua orang melihat pokok ini dengan pendapat yang sama, dan kita perlu menghormati perbedaan-perbedaan tersebut.

Dalam ayat 22, di tengah pembicaraan tentang membiarkan orang mengikuti hati nuraninya, Paulus menambahkan satu amaran penting: "Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan." Peringatan apakah yang Paulus berikan di sini? Bagaimanakah hal ini menyeimbangi hal lainnya yang ia bahas dalam konteks ini?
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________

Pernahkah Anda mendengar seorang berkata, "Bukan urusan siapa pun apa yang saya makan atau apa yang saya pakai atau jenis hiburan yang saya suka?" Benarkah demikian? Tak satu pun kita hidup dalam kehampaan. Tindakan, perkataan, perbuatan, bahkan pola makan kita dapat mempengaruhi orang lain, entah untuk hal yang baik ataupun buruk. Tidak sukar untuk mengetahuinya. Jika seorang yang menghormatiAnda melihatAnda sedang melakukan sesuatu yang "salah," dia dapat dipengaruhi oleh teladan Anda untuk melakukan hal yang sama. Kita membodohi diri kita jika kita berpikir sebaliknya. Untuk beralasan bahwaAnda tidak memaksa orang tersebut tidaklah tepat. Sebagai orang-orang Kristen, kita mempunyai tanggung jawab satu sama lain, dan jika teladan kita dapat menyesatkan seseorang, kita layak dipersalahkan.

Teladan apakah yangAnda tunjukkan?ApakahAnda merasa nyaman melihat bagaimana orang lain, khususnya orang muda atau orang yang baru bertobat, mengikuti teladan Anda dalam segala hal? Apakah yang dikatakan jawaban Anda tentang diri Anda?

Senin, 20 September 2010

Dengan Ukuran Yang Kamu Gunakan

Baca roma 14:10. Alasan apakah yang diberikan Paulus di sini bagi kita agar berhati-hati dalam menghakimi orang lain?

Kita cenderung menghakimi orang lain dengan kasar, dan sering dalam hal yang sama yang kita juga lakukan. Namun demikian, betapa sering apa yang kita lakukan tampaknya tidak terlalu buruk bagi kita dibanding jika hal yang sama dilakukan oleh orang lain. Kita boleh saja menipu diri kita oleh kemunafikan kita, tetapi tidak denganAllah, yang memperingatkan kita: "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu" (Matius 7:1-4).

Apakah makna pernyataan dari Perjanjian Lama yang diperkenalkan Paulus di sini? Roma 14:11.

Kutipan dariYesaya 45:23 mendukung pemikiran bahwa semua orang harus menghadap pengadilan. "Setiap lutut" dan "setiap lidah" membuat panggilan itu bersifat individu. Implikasinya adalah setiap orang harus mempertanggungjawabkan kehidupan dan perbuatan-perbuatannya (ay. 12). Tidak seorang pun dapat menjawab untuk orang lain. Dalam pengertian penting ini, kita bukanlah penjaga saudara kita.

Dengan konteks tersebut, bagaimanakah Anda memahami apa yang Paulus katakan dalam roma 14:14?

Pembahasannya masih tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala-berhala. Masalahnya jelas bukan perbedaan antara makanan halal dan haram. Paulus berkata bahwa tidak ada yang salah dalam memakan makanan itu sendiri sekalipun telah dipersembahkan kepada berhala. Lagipula, apakah suatu berhala? Bukan apa-apa (lihat 1 Kor. 8:4), jadi apakah urusannya jika ada orang kafir yang mempersembahkan makanan ke patung seekor kodok ataupun seekor banteng? Jangan membuat seorang melanggar hati nuraninya, bahkan jika hati nuraninya itusangatlahpeka.Kenyataaninilahyangtampaknyatidakdipahamisaudara-saudara yang "kuat." Mereka menganggap remeh perasaan peka dari saudara-saudara yang "lemah" dan menaruh batu-batu sandungan pada jalan mereka.

Bisakah Anda, dalam semangat Anda bagi Tuhan, berada dalam bahaya yang diamarkan Paulus di sini? Mengapakah kita harus berhati-hati agar tidak berusaha menjadi hati nurani bagi orang lain, betapa baik pun maksud kita?

Jumat, 17 September 2010

Minggu, 19 September 2010

Saudara Yang Lemah

Dalam Roma 14:1-3, masalahnya adalah tentang makan daging yang boleh jadi telah dipersembahkan kepada berhala-berhala. Rapat di Yerusalem (Kisah 15) telah mengatur bahwa orang-orang dari bangsa lain yang bertobat harus menahan diri dari menggunakan makanan seperti itu. Tetapi selalu ada pertanyaan apakah daging yang dijual di pasar-pasar umum berasal dari binatang-binatang yang telah dipersembahkan kepada berhala-berhala (lihat 1 Kor. 10:25). Sebagian orang Kristen tidak peduli sama sekali dengan hal itu; yang lain, sekalipun hanya dengan sedikit keraguan, memilih untuk makan sayur-sayuran saja.
Hal ini tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah vegetarisme serta hidup sehat. Paulus juga tidak menyinggung dalam ayat ini bahwa perbedaan antara daging yang halal dan haram telah dihapuskan. Ini bukanlah pokok yang sedang dibahas. Jika perkataan "ia boleh makan segala jenis makanan" (Roma 14:2) diartikan bahwa kini segala jenis binatang, halal ataupun tidak, dapat dimakan, maka kalimat ini telah disalahtafsir. Perbandingan dengan ayat-ayat lain di Perjanjian Baru bertentangan dengan penerapan tersebut. Sementara itu, "menerima" seorang yang lemah dalam iman berarti mem-beri dia keanggotaan penuh serta status sosial. Orang tersebut bukan untuk didebat melainkan diberikan hak atas pendapatnya.

Jika demikian, prinsip apakah yang harus kita petik dari roma 14:1-3?

Adalah penting juga untuk menyadari bahwa Paulus dalam ayat 3 tidak berbicara negatif tentang orang yang" lemahiman." Diajugatidakmemberinasihat bagi orang tersebut bagaimana menjadi kuat. Dari sudut pandang Allah, orang Kristen yang terlalu takut salah seperti itu (dinyatakan terlalu takut salah tentu saja bukan oleh Allah melainkan oleh rekan sesama Kristen) berkenan pada-Nya. Allah "telah menerima orang itu."

Bagaimanakah roma 14:4 menjelaskan apa yang baru saja kita pelajari?
____________________________________________________________________
____________________________________________________________________

Sekalipun kita perlu ingat prinsip-prinsip yang dipelajari dalam pelajaran hari ini, adakah saat-saat serta tempat di mana kita perlu campur tangan dan menghakimi, jika bukan hati seseorang, paling tidak tindakan- tindakannya? Apakah kita harus mundur serta tidak berkata dan berbuat apa-apa dalam segala sesuatu?Yesaya 56:10 menggambarkan para penjaga sebagai "anjing-anjing bisu, tidak tahu menyalak." Bagaimanakah kita bisa mengetahui kapan berbicara dan kapan berdiam diri? Bagaimanakah kita menemukan keseimbangan dalam hal ini?

Rabu, 15 September 2010

Pelajaran 13 Sabtu, 18-24 September 2010

Semua yang Lain adalah Komentar


Sabat Petang

BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Roma 14-16.

AYAT HAFALAN: "Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah" (Roma 14:10).

Seseorang mendekati seorang rabi tersohor tentang zaman kuno dan meminta dia menjelaskan arti keseluruhan dari Taurat sambil berdiri dengan satu kaki. "Jangan lakukan kepada orang lain," kata rabi itu di atas satu kaki, "apa yang tampaknya bisa melukaiAnda; itulah isi seluruh Taurat. Semua yang lain hanya komentar."
Entah seorang setuju atau tidak dengan pernyataan ini, si rabi ada benarnya. Beberapa aspek iman kita sangat hakiki dan yang lain hanya sekadar "komentar." Pelajaran pekan ini melihat beberapa "komentar" tersebut. Maksudnya adalah segala sesuatu yang muncul tanpa dibahas mendalam sebelumnya dalam prinsip-prinsip dasar keselamatan. Apakah peran hukum—entah itu seluruh sistem Perjanjian Lama atau hanya Sepuluh Perintah—dalam hal keselamatan? Paulus perlu membuat batasan yang jelas sebagai dasar Allah menerima seseorang. Mungkin keseluruhannya dapat dirangkum dalam pertanyaan kepala penjara yang kafir itu, "Apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?" (Kisah 16:30).
Dengan penjelasan itu, Paulus kini membahas beberapa "komentar." Sekalipun sangat kuat dalam beberapa ajaran, Paulus ambil sikap lebih bebas dalam hal-hal lainnya. Ini karena hal-hal tersebut tidaklah mendasar, berupa "komentar," karena memang demikianlah. Namun pada saat yang sama, sekalipun hal-hal tersebut tidak terlalu mendasar, sikap orang-orang Kristen terhadap satu sama lain dalam membahas hal-hal ini sangatlah penting.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk Sabat, 25 September.

Jumat, 17 September 2010

Pelajari Selanjutanya: Baca Ellen G. White, "An Explanation of Early Statements," hlm. 66-69, dalam Selected Messages, jld. 1; "Practical Godliness," hlm. 540, 541, dalam Testimonies for the Church, jld. 5; "Our Attitude Toward the Civil Authorities," hlm. 394, 395, dalam Testimonies for the Church, jld. 6;
"Bait Suci dan Upacara-upacara," hlm. 406-423, dalam Alfa dan Omega, jld. 1; "Makna Rohani Hukum Allah," hlm. 55-90, dalam Khotbah di Atas Bukit. "Dalam Alkitab kehendak Allah dinyatakan. Kebenaran-kebenaran Firman Allah adalah ucapan Yang Mahatinggi. Dia yang menjadikan kebenaran-kebenaran ini sebagai bagian dalam hidupnya akan menjadi satu ciptaan baru dalam segala aspek. Dia tidak diberikan suatu kuasa mental yang baru, tetapi kegelapan yang melalui kebodohan dan dosa telah mengaburkan pengertiannya akan disingkirkan. Perkataan, 'Hati yang baru akan Kuberikan juga kepadamu,' berarti, 'Satu pikiran yang baru akan Kuberikan kepadamu.' Suatu perubahan hati selalu disertai dengan satu keyakinan yang jelas akan kewajiban Kristen, sebuah pemahaman akan kebenaran. Dia yang menaruh perhatian yang tekun dan penuh doa padaAlkitab akan mendapatkan pemahaman yang jernih serta pertimbangan yang sehat, seakan-akan oleh berbalik kepada Allah dia telah mencapai satu tahap kecerdasan yang lebih tinggi.—Ellen G. White, My Life Today, hlm. 24.
"Tuhan...datangsegera,dankitaharusbersediadanmenantikankedatangan-Nya. Oh, betapa mulianya nanti untuk melihat Dia dan disambut sebagai orang-orang tebusan-Nya! Kita telah menanti lama, tetapi pengharapan kita tidak pudar. Jika kita dapat melihat Sang Raja dalam keindahan-Nya kita akan diberkati selama-lamanya. Saya merasa seakan harus berseru nyaring: "Sudah dekat ke rumah!" Kita sedang mendekati waktu di mana Kristus akan datang dalam kuasa dan kemuliaan yang besar untuk membawa orang-orang tebusan-Nya kepada rumah kekal mereka."—Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 8, hlm. 253.

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTU DIDISKUSIKAN:
  1. Dalamkelas,ulangipertanyaan diakhir pelajaran hariKamis.Apasajakah jawaban yang diberikan anggota kelas, dan apa alasan mereka?
  2. Pertanyaan tentang bagaimana kita bisa menjadi warga negara yang baik dan orang Kristen yang baik sering sangat rumit. Jika seorang datang padaAnda meminta nasihat tentang prinsipnya dalam apa yang dia yakini sebagai kehendak Allah, sekalipun itu akan membuat dia bertentangan dengan pemerintah, apakah yang akan Anda katakan? Nasihat apakah yangakan Andaberikan? Prinsip-prinsip apakahang harus Anda ikut? Mengapa ini yang harus ditindaklanju dengan pertimbangan yang paling sungguh-sungguh dan juga doa? (Lagipula, tidak semua orang yang dilemparkan ke lubang singa keluar dengan tak tergores).
  3. Menurut Anda manakah yang lebih sulit dilakukan: memelihara dengan ketat pada setiap huruf hukum Allah ataukah mengasihi orang lain tanpa pamrih?Atau, apakahAnda berpendapat bahwa pertanyaan ini menyajikan satu perbedaan yang salah? Jika ya, mengapa?

Kamis, 16 September 2010

Lebih Dekat Dari Pada Waktu Kita Menjadi Percaya

"Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya" (Roma 13:11).
Sebagaimanayangsudahdinyatakansebelumnya,Paulusmempunyaisatufokus khusus dalam surat kepada jemaat di Roma, yaitu untuk menjelaskan kepada jemaat di Roma, khususnya kepada orang-orang Yahudi yang percaya, peranan iman dan perbuatan dalam konteks Perjanjian Baru. Pekabarannya adalah keselamatan dan bagaimana seorang berdosa dinyatakan benar dan kudus di hadapan Tuhan. Untuk menolong mereka yang penekanannya hanya pada hukum, Paulus menempatkan hukum pada peran dan konteksnya yang benar. Sekalipun sebenarnya agama Yahudi bahkan dalam zaman Perjanjian Lama adalah satu agama kasih karunia, legalisme telah muncul dan menimbulkan banyak kehancuran. Betapa berhati-hatinya kita sebagai gereja agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

Baca roma 13:11-14. Peristiwa apakah yang Paulus bicarakan di sini, dan bagaimanakah seharusnya kita bertindak untuk mengantisipasi peristiwa tersebut?

Betapa mencengangkan bahwa Paulus di sini sedang berbicara kepada umat percaya, mengajak mereka untuk bangun dan bersatu karena Yesus akan datang kembali. Fakta bahwa ini dituliskan hampir dua ribu tahun lalu tidak menjadi masalah.Kita harusselaluhidupdalam antisipasi terhadapdekatnya kedatanganKristus. Sejauh itu menyangkut diri kita, dan pengalaman pribadi kita masing-masing, Kedatangan Kedua sudah dekat sama dengan potensi kapan saja kematian kita.
Apakah minggu depan atau 40 tahun, kita tutup mata dalam kematian, dan apakah kita tidur hanya empat hari atau 400 tahun—tidak ada bedanya bagi kita. Hal berikut yang kita ketahui adalah kedatanganYesus yang kedua kali. Dengan kematian yang kapan saja bisa terjadi pada diri kita, waktu ini sesungguhnya singkat, dan keselamatan kita sudah lebih dekat daripada ketika kita menjadi percaya.
Sekalipun Paulus tidak banyak membahas tentang Kedatangan Kedua dalam kitab Roma, dalam kitab Tesalonika dan Korintus dia membahasnya jauh lebih rinci. Lagipula, itu adalah satu tema penting dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Tanpa tema itu, serta pengharapan yang ditawarkannya, maka iman kita sesungguhnya tak berarti. Lagipula, apakah arti "pembenaran oleh iman" tanpa Kedatangan Kedua yang menjadikan kebenaran penting itu
membuahkan hasil yang penuh?

Jika Anda telahketahui pasti bahwa Yesus akan datang bulan depan, apakah yang mauAnda ubah dalam hidupAnda, dan mengapa? Sekarang, jika Anda percaya bahwa Anda perlu mengubah hal-hal itu satu bulan sebelum Yesus datang, mengapa tidak mengubahnya sekarang? Apakah bedanya?

Rabu, 15 September 2010

Hubungan Dengan Orang Lain

"Janganlah kamu berutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat" (Roma 13:8). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Apakah artinya bahwa jika kita mengasihi, maka kita tidak wajib lagi menurut hukum Allah?

Sebagaimana Yesus dalam Khotbah di Atas Bukit, Paulus di sini menguraikan aturan-aturan hukum tersebut, menunjukkan bahwa kasih harus menjadi kuasa pendorong di belakang segala yang kita lakukan. Karena hukum adalah tulisantabiat Allah, dan Allah adalah kasih, maka mengasihi berarti menggenapi hukum itu. Namun, Paulus tidak sedang menggantikan aturan-aturan rinci yang tepat dari hukum itu dengan standar kasih yang tidak jelas, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian orang Kristen. Hukum moral masih mengikat, karena, sekali lagi, itulah yang menunjukkan dosa—dan siapakah yang bisa menyangkal realitas dosa? Namun demikian, hukum itu benar-benar dapat dipelihara hanya dalam konteks kasih. Ingatlah, sebagian orang yang menyalibkan Yesus juga kemudian kembali ke rumahnya untuk memelihara hukum!

Perintah-perintah yang manakah yang Paulus singgung sebagai contoh untuk menggambarkan prinsip kasih dalam memelihara hukum? Mengapa perintah-perintah tersebut secara khusus? Roma 13:9, 10.

Menariknya, faktor kasih bukanlah sebuah prinsip yang baru diperkenalkan. Oleh mengutip Imamat 19:18, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," Paulus menunjukkan bahwa prinsipnya adalah sebuah bagian terpadu dari sistem Perjanjian Lama. Kembali Paulus merujuk kepada Perjanjian Lama untuk mendukung khotbah Injilnya.Ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini bahwa Paulus sedang mengajarkan bahwa hanya beberapa perintah yang disebutkan di sini saja yang masih berlaku. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa orang-orang Kristen boleh tidak menghormati orangtua mereka, menyembah berhala, dan mempunyai allah lain di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak.
Perhatikan, Paulus sedang membahas bagaimana bersikap satu sama lain. Dia sedang membahas tentang hubungan antar pribadi, itulah sebabnya dia menyebutkankhususperintah-perintahyangberpusat padahubunganini.Argumennya tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan perintah lainnya dari hukum itu. (Lihat Kisah 15:20; 1 Tes. 1:9; 1 Yoh. 5:21). Lagipula, sebagaimana para penulis Perjanjian Baru tunjukkan, oleh menunjukkan kasih kepada orang lain, kita menunjukkan kasih kepada Allah (Mat. 25:40; 1 Yoh. 4:20, 21).

Pikirkan tentang hubunganAnda denganAllah dan bagaimana itu mencerminkan hubungan Anda dengan orang lain. Berapa besarkah faktor kasih dalam hubungan tersebut? DapatkahAnda belajar mengasihi orang lain sebagaimana Allah mengasihi kita? Apakah yang menghalangi Anda melakukannya?

Selasa, 14 September 2010

Selasa, 14 September 2010

Hubungan Dengan Pemerintah

Baca roma 13:1-7. Prinsip-prinsip dasar apakah yang dapat kita ambil dari ayat ini tentang hubungan kita dengan kuasa pemerintahan sipil?

Yang membuat perkataan Paulus menarik adalah bahwa dia menulis pada saat suatu kekaisaran kafir sedang memerintah dunia, pemerintahan yang boleh jadi sangat brutal, pemerintahan yang pada intinya bobrok, dan tidak mengetahui sama sekali tentang Allah yang benar, dan yang dalam beberapa tahun akan memulai suatu penganiayaan massal terhadap mereka yang mau menyembah Allah itu. Kenyataannya, Paulus dihukum mati oleh pemerintah ini! Namun, sekalipun dengan semua ini, Paulus menasihatkan agar orang-orang Kristen menjadi warga-warga negara yang baik, bahkan di bawah suatu pemerintahan seperti itu?
Ya. Dan itu karena ajaran tentang pemerintah itu sendiri terdapat dalam seluruhAlkitab. Konsep dan prinsip tentang pemerintah itu ditetapkanAllah. Umat manusia perlu hidup dalam satu masyarakat dengan peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan serta standar-standar. Anarkhi bukanlah konsep Alkitab.
Namun, itu bukan berartiAllah merestui segala bentuk pemerintahan atau cara berbagai pemerintahan ini dijalankan. Justru sebaliknya. Seorang tidak perlu melihat terlalu jauh, entah dalam sejarah atau dalam dunia masa kini, untuk melihat adanya beberapa rezim yang brutal.Akan tetapi, sekalipun dalam keadaan-keadaan seperti ini, umat Kristen harus sedapat mungkin menurut hukum-hukum negeri.
Orang-orang Kristen harus memberi dukungan setia kepada pemerintah selama tuntutan-tuntutannya tidak bertentangan dengan Allah. Seorang harus mempertimbangkan dengan cermat dan penuh doa, dan dengan nasihat orang lain, sebelum mengambil jalan yang membuat dia bertentangan dengan pemerintah. Kita tahu dari nubuatan bahwa suatu hari nanti seluruh pengikut setia Allah akan dihadapkan melawan kuasa-kuasa-kuasa politik yang mengendalikan dunia (Wahyu 13). Sebelum itu terjadi, kita harus melakukan apa saja yang bisa kita lakukan di hadapan Allah, sebagai warga negara di mana kita berada.
"Kita harus mengakui pemerintahan manusia sebagai suatu peraturan yang ditentukan Ilahi, dan mengajarkan penurutan kepadanya sebagai suatu kewajiban yang suci, dalam lingkungannya yang sah. Tetapi bila tuntutannya berlawanan dengan tuntutanAllah, kita harus menurutAllah lebih daripada manusia. Perkataan Allah harus diakui melebihi segala undang-undang manusia.
"Kita tidak dituntut untuk menentang kekuasaan. Perkataan kita, apakah dikatakan atau ditulis, harus dipertimbangkan dengan teliti, supaya jangan kita menempatkan diri sendiri pada catatan sebagai mengucapkan sesuatu yang akan membuat kita bertentangan dengan undang-undang atau peraturan. Janganlah kita mengatakan atau melakukan sesuatu yang akan menutup jalan kita."—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 58


Senin, 13 September 2010

Senin, 13 September 2010

Memikirkan Orang Lain

Kita telah membicarakan sebuah pokok penting pada triwulan ini tentang kekekalan hukum moral Allah, dan telah menekankan berulang-ulang bahwa pekabaran Paulus dalam kitab Roma bukanlah mengajarkan bahwa Sepuluh Perintah itu telah ditiadakan dan digugurkan karena iman.
Namun, mudah untuk terperangkap dalam huruf-huruf hukum itu sehingga kita lupa pada motivasi inti di balik hukum tersebut, dan motivasi itu adalah— kasih akan Allah dan kasih pada sesama. Sementara siapa saja dapat mengaku punya kasih, menyatakan kasih itu dalam kehidupan setiap hari adalah hal yang sama sekali berbeda.

Baca roma 12:3-21. Bagaimanakah kita menyatakan kasih pada orang lain?

Sebagaimana dalam 1 Korintus 12 dan 13, setelah membahas tentang karunia Roh, Paulus meninggikan kasih. Kasih (Agape dalam Yunani) adalah jalan yang paling sempurna. "Allah adalah kasih" (1 Yoh. 4:8). Jadi, kasih menggambarkan tabiat Allah. Mengasihi berarti bertindak terhadap orang lain sebagaimana Allah telah bertindak terhadap mereka dan memperlakukan mereka sebagaimana Allah telah memperlakukan mereka.
Di sini Paulus menunjukkan bagaimana kasih harus diungkapkan dalam cara praktis. Dari sini muncul satu prinsip penting, yaitu kerendahan hati pribadi, kerelaan seseorang untuk tidak "memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan" (Roma 12:3), suatu kerelaan untuk "saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat" (ay. 10), dan suatu kerelaan untuk tidak "menganggap dirimu pandai" (ay. 16). Perkataan Kristus tentang diri-Nya, "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati" (Mat. 11:29) merangkum semuanya.
Dari semua orang, umat Kristen haruslah yang paling rendah hati. Lagipula, lihatlah betapa tak berdayanya kita, lihatlah betapa jatuhnya kita, lihatlah betapa kita, bukan saja bergantung pada suatu kebenaran di luar kita untuk keselamatan tetapi juga pada satu kuasa yang bekerja di dalam kita untuk mengubah kita dalam cara-cara yang kita tidak pernah bisa untuk mengubah diri kita. Apakah yang harus kita andalkan, apakah yang harus kita sombongkan, apakah dalam dan dari diri kita yang harus kita sombongkan? Tidak ada sama sekali. Beranjak dari titik awal kerendahan hati pribadi ini, bukan saja di hadapan Allah tetapi juga di hadapan orang lain, kita harus hidup seperti yang dinasihatkan Paulus kepada kita dalam ayat-ayat di atas.

Baca roma 12:18. Seberapa baikkah kita menerapkan nasihat ini dalam hidup kita? Apakah Anda membutuhkan penyesuaian sikap agar dapat melakukan apa yang diperintahkan Firman itu pada kita?

Minggu, 12 September 2010

Minggu, 12 September 2010

Kurban Yang Hidup

Bagian doktrin dari kitab Roma berakhir di pasal 11. Pasal 12 hingga 16 menyajikan instruksi praktis dan catatan-catatan pribadi. Namun demikian, pasal-pasal penutup ini sangat penting, karena di situ ditunjukkan bagaimana kehidupan iman itu dihidupkan. Iman bukanlah pengganti penurutan, seakan iman meniadakan kewajiban kita untuk menurut Tuhan. Peraturan-peraturan moral masih berlaku; dijelaskan, dan bahkan diuraikan dalam Perjanjian Baru. Juga, tidak ada indikasi diberikan bahwa orang-orang Kristen akan dengan mudah mengatur hidupnya dengan peraturan-peraturan moral tersebut. Sebaliknya, kita diberitahukan bahwa ada saat-saat penurutan itu sukar, karena pertempuran dengan diri dan dengan dosa itu selalu sukar (1 Ptr. 4:1). Orang Kristen diberi janji kuasa Ilahi dan kepastian bahwa kemenangan itu mungkin, tetapi kita masih ada di dalam dunia si musuh dan harus melakukan banyak peperangan melawan pencobaan. Kabar baiknya adalah jika kita jatuh, jika kita tersandung, kita tidak tercampak melainkan kita mempunyai seorang Imam Besar yang menjadi pengantara demi kita (Ibrani 7:25).

Baca roma 12:1. Bagaimanakah ibarat [analogi] yang disajikan di ayat inimenyatakanbagaimanakitasebagaiorang-orangKristenharushidup? Bagaimanakah roma 12:2 cocok dengan kita?

Dalam Roma 12:1, Paulus sedang menyinggung kurban-kurban Perjanjian Lama. Sebagaimana pada zaman dulu binatang-binatang dipersembahkan bagi Allah, demikian juga sekarang orang-orang Kristen harus menyerahkan tubuh mereka kepada Allah, bukan untuk dibunuh melainkan sebagai kurban-kurban yang hidup yang diserahkan bagi pelayanan-Nya. Di zaman Israel kuno, semua persembahan yang dibawa sebagai kurban diperiksa dengan teliti. Jika ditemukan ada cacat pada binatang itu, maka akan ditolak; karena Allah telah memerintahkan bahwa persembahan itu harus tidak bercacat cela. Demikian juga, orang-orang Kristen diminta untuk mempersembahkan tubuh mereka "sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah." Untuk melakukan hal ini, segala kekuatan mereka harus dijaga dalam kondisi yang sebaik mungkin. Walau tak satu pun kita yang tidak bercela, yang penting di sini adalah kita harus berusaha untuk hidup tanpa cacat cela dan sesetia mungkin.

Selalu saja mudah untuk mengemukakan berbagai alasan maaf untuk
dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, bukan?Apakah alasan maafAnda
yang paling umum di saat jatuh ke dalam hal yang sama berulang-ulang?
Bukankah sudah waktunya untuk mulai mengesampingkan alasan-alasan
tersebut dan menuntut janji-janjiAllah, karena bukankah kuasaAllah le-
bih besar daripada alasan-alasan tersebut?

Sabtu, 11 September 2010

Pelajaran 12, 11 – 17 September 2010

Kasih dan Hukum Taurat

Sabat Petang

Baca Untuk Pelajaran Pekan Ini: Roma 12, 13

AYAT HAFALAN: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12 : 2)

Selain Paulus berusaha untuk membujuk jemaat di Roma tentang pandangan-pandangan mereka yang salah tentang hukum, dia juga mengajak orang-orang Kristen menuju sebuah penurutan standard tinggi. Penurutan ini berasal dari sebuah perubahan batin di dalam hati dan pikiran kita, sebuah perubahan yang datang hanya melalui kuasa Allah yang bekerja dalam diri orang yang berserah kepada-Nya.
Kitab Roma tidak memberi petunjuk bahwa penurutan ini terjadi secara otomatis. Tuntutan-tuntutannya perlu dijelaskan kepada orang Kristen ; orang tersebut harus mau menuruti tuntutan-tuntutan tersebut; dan akhirnya, orang Kristen tersebut harus meminta kuasa yang tanpanya penurutan itu mustahil.
Maksudnya disini adalah perbuatan merupakan bagian iman Kristen. Paulus tidak pernah bermaksud merendahkan perbuatan; dalam pasal 13 sampai 15 dia sangat menekankan hal tersebut. Hal ini bukan sebuah penyangkalan terhadap apa yang telah dibahas sebelumnya tentang pembenaran oleh iman. Sebaliknya, perbuatan adalah ungkapan sebenarnya dari makna hidup oleh iman. Seseorang bahkan bisa mendebat bahwa karena penyataan yang ditambahkan setelah Yesus datang, tuntutan-tuntutan Perjanjian Baru lebih sukar dari apa yang dituntut dalam Perjanjian Lama, dimana orang-orang percaya telah diberikan sebuah teladan tingkah laku moral yang sebenarnya dalam Yesus Kristus. Hanya Yesuslah dan tidak ada yang lain, teladan yang kita harus ikut. “hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga” –bukan pada Musa, bukan Daniel, bukan Daud, bukan Salomo, bukan Henokh, bukan Debora, bukan Elia—melainkan “dalam Kristus Yesus” (Filipi 2: 5).
Tidak ada lagi standar yang lebih tinggi dari ini.

*Pelajari pelajaran pecan ini untuk sabat 18 September

Jumat, 10 September 2010

Jumat, 10 September 2010

PELAJARI SELANJUTNYA: Baca Ellen G. White, “Di Hadapan Sanhedrin,” hlm.65-72; “Dari Penganiaya Menjadi Murid,” hlm. 95-104; “Dikirim dari Roma,” hlm. 396-409,dalam buku Alfa dan Omega, jld. 7; “Reaching Catholic,”hlm. 573-577, dalam Evangelism;” What to Preach and Not to Preach,” hlm. 155,156, dalam buku Selected Messages, jld 1

“Meskipun kegagalan Israel sebagai suatu bangsa, namun masih tinggal diantara mereka suatu umat yang sisa seperti itu yang akan diselamatkan. Pada waktu kedatangan Juruselamat itu ada pria dan wanitayang setia yang telah menerima dengan suka hati pekabaran Yohanes Pembabtis, dan dengan demikian telah dituntun untuk mempelajari kembali nubuatan mengenai Mesias. Bila gereja Kristen yang mula-mula Ia dirikan, itu telah disusun dari antara orang-orang Yahudi yang setia yang mengetahui Yesus orang Nazaret sebagai seorang yang kedatangan-Nya telah lama dinantikan”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 317
“Di antara orang-orang Yahudi ada beberapa, yang sama seperti Saulus dari Tarsus, perkasa dalam Alkitab, dan orang-orang ini akan memasyurkan dengan kuasa yang ajaib bagaimana kekalnya hukum Allah itu . . . . Sementara hamba-hamba-Nya bekerja dengan setia bagi mereka yang telah lama dilupakan dan disiksa, keselamatan-Nya akan dinyatakan.”—Idem, hlm. 32, 321.
“Dalam penutupan pemberitaan Injil itu, bila pekabaran khusus telah dilakukan bagi golongan-golongan yang terlewatkan sampai pada saat itu, Allah mengharapkan jurukabar-jurukabar-Nya untuk mengambil perhatian khusus kepada umat Yahudi yang mereka temukan deiseluruh muka bumi. Sementara tulisan-tulisan Perjanjian Lama disatupadukan dengan Perjanjian Baru dalam suatu penjelasan maksud Allah yang abadi ini akan jadi seperti suatu fajar kejadian baru bagi kebanyakan orang Yahudi, suatu kebangkitan jiwa. Sementara mereka melihat Kristus tergambar dalam tulisan-tulisan Perjanjian Lama, dan merasa betapa jelasnya Perjanjian Baru menerangkan yang lama, segala kesanggupan mereka yang tertidur akan dibangkitkan, dan mereka akan mengenal Kristus sebagai Juruselamat dunia. banyak yang oleh iman akan menerima Kristus sebagai penebus mereka.”—Idem, hlm. 320.

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
  1. Di zaman akhir, di saat hukum Allah, khususnya Sabat, menjadi pertentangan tajam, bukakah masuk akal bahwa orang-orang Yahudi—banyak diantara mereka yang bersungguh-sungguh dalam hal Sepuluh Perintah itu sebagaimana orang Advent—akan mempunyai satu peranan dalam membantu meluruskan beberapa persoalan di hadapan dunia ini? Lagi pula, bila tiba pada hal memelihara Sabat, orang-orang Advent, lain halnya dengan orang-orang Yahudi, adalah “anak-anak pendatang baru.” Diskusikan.
  2. Mengapa dari antara semua gereja, Adventlah seharusnya yang paling berhasil menjangkau orang Yahudi? Apakah yang Anda atau jemaat lakukan dalam usaha menjangkau orang Yahudi di masyarakat Anda, jika ada?
  3. Apakah yang dapat kita pelajari dari kesalahan-kesalahan banyak oran di Israel dulu kala? Bagaimanakah kita dapat mencegah melakukan hal yag sama zaman ini?

Kamis, 09 September 2010

Kamis, 9 September 2010

Keselamatan Orang-orang Berdosa

Kasih Paulus bagi bangsanya sendiri nampak jelas dalam ayat-ayat ini. Sangatlah sukar tentunya bagi Paulus melihat sebagian teman sebangsanya tampil melawan dia dan kebenaran Injil. Namun, ditengah semua itu, dia tetap percaya bahwa banyak akan menerima Yesus sebagai Mesias.

Baca Roma 11:28-36. Bagaimanakah Paulus menunjukkan kasih Allah, bukan hanya untuk orang Yahudi saja tetapi juga bagi seluruh manusia? Bagaimanakah dalam ayat ini dia mengungkapkan kuasa ajaib dan rahasia dari kasih karunia Allah?
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Diseluruh ayat diatas, sekalipun ada ditampilkan perbedaan antara orangYahudi dan bangsa lain, ada satu hal yang jelas: kemurahan dan kasih serta anugerah Allah dicurahkan keatas orang-orang berdosa. Bahkan sebelum dasar dunia ini, rencana Allah adalah untuk menyelamatkan manusia dan menggunakan orang lain, bahkan bangsa-bangsa lain, sebagai alat pada tangan-Nya untuk memenuhi kehendak Ilahi.

Baca dengan teliti dan penuh doa ayat 31. Pokok penting apakah yang harus kita ambil dari ayat ini tentang kesaksian kita, bukan saja kepada orang Yahudi tetapi juga kepada semua manusia yang pernah kita temui?
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Tak diragukan, sepanjang berabad-abad, jika saja gereja Kristen telah memperlakukan orang Yahudi dengan lebih baik, tentu sudah lebih banyak dari mereka yang datang kepada Mesias mereka. Kemurtadan besar-besaran di abad-abad permulaan setelah Kristus, serta pengkafiran luar biasa pada Kekristenan—termasuk penolakan Sabat hari ketujuh demi hari minggu—tentu tidak memudahkan seorang Yahudi yang seharusnya sudah bisa ditarik kepada Yesus.
Dengan demikian sangatlah penting agar semua orang Kristen, dengan menyadari kemurahan yang telah diberikan kepada mereka di dalam Yesus, menunjukkan kemurahan itu kepada orang lain. Jika kita tidak lakukan hal itu kita tidak bisa di sebut orang Kristen (Lihat Matius 18:23-36).

Adakah seorang kepada siapa Anda perlu tunjukkan kemurahan, orang yang mungkin layak untuk itu? Mengapa tidak menunjukkan pada orang ini kemurahan tersebut, sekalipun hal itu sukar? Bukankah itu yang telah Yesus buat bagi kita?


Rabu, 08 September 2010

Rabu, 8 September 2010

Suatu Rahasia Diungkapkan

Baca Roma 11:25-27. Peristiwa-peristiwa besar apakah yang diramalkan Paulus disini?

Orang-orang Kristen telah mendiskusikan dan mendebatkan beberapa ayat ini selama berabad-abad. Beberapa hal memang jelas. Sebagai pendahuluan, hal paling jelas di sini Allah berusaha menjangkau orang-orang Yahudi. Apa yang dikatakan Paulus adalah jawaban terhadap pertanyaan yang muncul di awal pasal ini, “adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” jawabannya sudah tentu tidak, dan penjelasannya adalah (1) kebutuhan itu (kata Yunani porosis, “ketegaran”) hanyalah “sebagian,” dan (2) itu hanya bersifat sementara, “sampai jumlah yang penuh dari bagsa-bangsa lain telah masuk.”
Apakah artinya “jumlah yang penuh dari bangsa-bagsa lain?” Banyak yang melihat penggalan kalimat ini sebagai satu ungkapan kegenapan amanat Injil, dimana seluruh dunia mendengarkan Injil. “jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain” tercapai pada saat Injil diberitakan dimana-mana. Iman orang Israel, yang diwujudkan dalam Yesus, disebarluaskan. Injil telah dikhotbahkan kepada seluruh dunia. Kedatangan Yesus sudah dekat. Pada titik inilah banyak orang Yahudi mulai datang kepada Yesus.
Hal sulit lainnya adalah arti dari “seluruh Israel akan diselamatkan” (ay.26). sebutan ini jangan di tafsirkan bahwa semua orang Yahudi pada akhirnya akan mendapatkan keselamatan oleh satu dekret Ilahi. Alkitab tidak pernah mengkhotbahkan keselamatan universal, baik bagi seluruh umat manusia ataupun bagi satu kelompok tertentu. Paulus berharap bisa menyelamatkan “beberapa orang dari mereka” (ay. 14). Ada yang menerima Mesias, ada juga yang menolak, dan ini terjadi pada semua kelompok manusia.
Mengomentari Roma 11, Ellen White berbicara tentang suatu waktu “dalam penutupan pemberitaan Injil” bila “kebanyakan orang Yahudi… oleh iman akan menerima Kristus sebagai Penebus mereka.”—Alfa dan Omega, jld. 7, hlm. 320.
“ada pekerjaan besar yang harus dikerjakan di dunia kita. Tuhan telah menyatakan bahwa bangsa-bangsa lain harus dikumpulkan, dan bukan hanya mereka saja, melainkan juga orang-orang Yahudi. Ada banyak diantara orang Yahudi yang mau ditobatkan, yang melalui mereka kita akan melihat keselamatan dari Allah tampil sebagai satu pelita yang menyala. Ada orang Yahudi dimana-mana, dan kepada mereka terang kebenaran zaman ini harus dibawakan. Ada banyak diantara mereka yang mau datang kepada terang itu, dan yang akan mengumandankan dengan kuasa luar biasa hukum Allah yang tak terubahkan itu.”—Ellen G. White, Evangelism, hlm. 578.

Ambil waktu untuk memikirkan iman Kristen yang berakar dari unsur Yahudi. Bagaimanakah satu studi tertentu tentang agam Yahudi dapat menolong Anda mengerti lebih baik iman Kristen Anda?

Selasa, 07 September 2010

Selasa, 7 September 2010

Cabang Yang Dicangkokkan

Baca Roma 11:11-15. Harapan besar apakah yang Paulus suguhkan dalam ayat-ayat ini?

Dalam ayat-ayat ini, kita temukan dua pernyataan yang sejajar: (1) “kesempurnaan mereka [orang Israel]” (ay. 12), dan (2) “penerimaan mereka [orang Israel]” (ay. 15). Palus melihat pengurangan dan penolakan tersebut hanyalah sementara dan akan diikuti dengan kesempurnaan dan penerimaan. Inilah jawaban kedua Paulus kepada pertanyaan yang ditimbulkan di awal pasal ini. “Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Apakah yang tampaknya seperti penolakan, katanya, hanyalah satu situasi sementara.

Baca Roma 11:16-24. Apakah yang dikatakan Paulus kepada kita dalam ayat ini?

Paulus mengibaratkan umat sisa yang setia di Israel dengan sebatang pohon zaitun, yang beberapa cabangnya telah dipatahkan (mereka yang tidak percaya)—sebuah ilustrasi yang digunakannya untuk membuktikan bahwa Allah tidak menolak umat-Nya” (ay. 2). Akar dan batangnya masih ada.
Kepada pohon ini orang-orang percaya dari bangsa-bangsa lain telah dicangkok. Tetapi mereka mengisap sari makanan dan kehidupan mereka dari akar dan batang pohon itu, yang melambangkan orang Israel yang percaya.
Apa yang terjadi pada mereka yang menolak Yesus dapat juga terjadi pada bangsa-bangsa lain yang telah percaya. Alkitab tidak mengajarkan doktrin “sekali selamat tetap selamat.” Sebagaimana keselamatan ditawarkan dengan Cuma-cuma, maka itu juga dapat ditolak dengan Cuma-cuma. Sekalipun kita harus berhati-hati untuk berpikir bahwa setiap kita jatuh kita berada diluar keselamatan, atau bahwa kecuali kita sempurna kita tidak diselamatkan, kita perlu mencegah ajaran yang sebaliknya juga—gagasan bahwa sekali kasih karunia Allah melingkupi kita, tidak ada yang dapat kita lakukan, tidak ada pilihan yang dapat kita buat, yang akan merebut dari kita jaminan keselamatan itu. Pada akhirnya, hanya mereka yang “tetap dalam kemurahan-Nya” (ay. 22) yang akan diselamatkan.
Janganlah seorang percaya pun bermegah dalam kebaikannya atau merasa lebih tinggi dari sesamanya. Keselamatan kita bukanlah didapatkan dengan usaha; itu adalah sebuah pemberian. Di hadapan Salib, di hadapan standar kesucian Allah, kita semua setara: orang berdosa yang membutuhkan kasih karunia Ilahi, orang berdosa yang membutuhkan kescian yang bisa menjadi milik kita hanya didalam Yesus dan apa yang sudah dilakukan-Nya bagi kita oleh datang ke dunia ini dalam tubuh manusia, menderita segala celaka kita, mati karena dosa-dosa kita, memberikan kita satu contoh bagaimana seharusnya kita hidup, dan menjanjikan kita kuasa untuk menjalankan kehidupan seperti itu. Dalam semuanya itu, kita mutlak bergantung pada-Nya, karena tanpa Dia kita tidak akan memiliki pengharapan melebihi yang ditawarkan dunia ini.

Senin, 06 September 2010

Senin, 6 September 2010

Pemilihan Berdasarkan Kasih Karunia

Baca Roma 11:1-7. Ajaran umum apakah yang dengan jelas dan mutlak disangkal oleh ayat-ayat ini?
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Pada pertama dari jawabannya terhadap pertanyaan “adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya?” Paulus menunjuk pada suatu umat yang sisa, yang dipilih berdasarkan kasih karunia, sebagai bukti bahwa Allah tidak menolak umat-Nya. Keselamatan terbuka bagi semua orang yang menerimanya, baik orang Yahudi maupun bangsa lain.
Haruslah diingat bahwa orang-orang yang pertama kali bertobat kepada Kekristenan adalah orang-orang Yahudi—contohnya, kelompok orang yang ditobatkan pada hari pentakosta. Dibutuhkan satu penglihatan dan mujizat khusus untuk meyakinkan Petrus bahwa bangsa-bangsa lain mempunyai akses yang sama kepada kasih karunia Kristus (Kisah 10; bandingkan dengan Kisah 15:7-9) dan bahwa Injil ini harus disampaikan kepada mereka juga.

Baca Roma 11:7-10. Apakah Paulus sedang berkata bahwa Allah dengan sengaja telah membutakan sebagian orang Israel yang menolak Yesus, kepada keselamatan? Apakah yang salah dengan ajaran ini?
_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Dalam ayat-ayat ini, Paulus mengutip dari Perjanjian Lama, yang diterima mempunyai wewenang oleh orang Yahudi. Ayat-ayat yang Paulus kutip menampilkan Allah yang memberikan kepada Israel satu roh yang membuat mereka tertidur, mencegah mereka melihat dan mendengar. Apakah Allah membutakan mata umat ini untuk mencegah mereka melihat terang yang akan menunutun mereka kepada keselamatan? Tidak pernah! Ayat-ayat ini harus dimengerti atas dasar penjelasan kita tentang Roma 9. Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan secara individu, karena Allah tidak menolak satu kelompok pun secara serempak untuk mendapatkan keselamatan. Sebaliknya, yang dibahas disini, yang memang adalah pusat pembahasan Paulus sejauh ini, adalah peranan yang dimainkan oleh umat tersebut dalam pekerjaan-Nya.

Apakah yang begitu salah dengan gagasan bahwa Allah telah menolak sekaligus satu umat manusia dalam hal keselamatan? Mengapa hal itu bertentangan dengan seluruh ajaran Injil, yang pada intinya menunjukkan bahwa Kristus telah mati untuk menyelamatkan semua umat manusia? Bagaimanakah gagasan ini telah menuntun kepada hasil-hasil yang tragis, contohnya seperti yang dialami orang-orang Yahudi?

Minggu, 5 September 2010

Kegenapan Hukum Taurat

Baca Roma 10:1-4. Dengan mengingat apa yang telah dibahas sebelumnya, apakah pekabaran dalam ayat ini? Bagaimanakah kita pada zaman ini bisa berada dalam bahaya oleh berusaha mendirikan “kebenaran kira sendiri?”

Legalisme bisa muncul dalam banyak bentuk, sebagian lebih halus dari yang lainnya. Mereka yang mengandalakan diri mereka sendiri, perbuatan baik mereka, pola makan mereka, cara mereka memelihara hari sabat dengan ketat, semua hal buruk yang mereka tidak lakukan, atau hal-hal baik yang telah mereka capai—bahkan dengan maksud-maksud yang terbaik sekalipun—sedang jatuh dalam perangkap legalisme. Dalam kehidupan kita setiap saat, kita harus menempatkan kesucian Allah dihadapan kita yang begitu berbeda dengan keberdosaan kita; itulah jalan paling pasti untuk melindungi diri kita dari cara berpikir yang menuntun banyak orang untuk mengusahakan “kebenaran mereka sendiri,” yang sangat berlawanan dengan kebenaran Kristus.
Roma 10:4 adalah satu ayat penting yang merangkum inti seluruh pekabaran Paulus kepada orang-orang Roma pertama, kita perlu mengetahui konteksnya. Banyak orang Yahudi yang “berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri” (Roma 10:3) dan mencari “kebenaran karena hukum Taurat (Roma 10:5). Tetapi dengan datangnya Mesias, jalan kebenaran yang sebenarnya ditampilkan. Kebenaran ditawarkan kepada semua orang yang mau mencanangkan iman mereka didalam Yesus. Mesiaslah yang ditunjukkan oleh sistem upacara dulu kala.
Bahkan jika seseorang mencakupkan Sepuluh Perintah dalam defenisi hukum, hal itu tidak berarti Sepuluh Perintah itu telah dihapuskan. Hukum moral menunjukkan dosa-dosa kita, kesalahan-kesalahan kita, kekurangan-kekurangan kita, dan dengan demikian menuntun kita kepada kebutuhan kita akan pengampunan, kebutuhan kita akan kebenaran, yang semuanya hanya terdapat pada Yesus. Dalam pengertian ini, Kristus adalah “Kegenapan” hukum Taurat, yang arti hukum Taurat menuntun kita kepada kebenaran dan kebenaran-Nya. Kata Yunani untuk “kegenapan” adalah telos, yang bisa juga diterjemahkan “tujuan” atau “maksud.” Kristus adalah tujuan final hukum Taurat itu, dengan kata lain hukum taurat itu menunutun kita kepada Yesus.
Melihat ayat ini sebagai satu ajaran bahwa Sepuluh Perintah—khususnya perintah keempat (ini sebenarnya maksud banyak orang)—kini telah ditiadakan adalah sama saja dengan membuat kesimpulan yang sangat bertentangan dengan apa yang Paulus dan Perjanjian Baru ajarkan.

Pernahkah Anda dapati diri Anda sombong dengan kebaikan Anda, khususnya dibandingkan dengan orang lain? Boleh jadi Anda “lebih baik,” namun apakah demikian? Bandingkan diri Anda dengan Kristus, dan kemudian pikirkanlah seberapa “baik” diri Anda sebenarnya.

Pelajaran 11, 4-10 September 2010

Pemilihan Berdasarkan
Kasih Karunia


Sabat Petang

BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Roma 10, 11

AYAT HAFALAN: “Maka aku bertanya: Adakah Allah mungkin telah menolak umat-Nya? Sekali-kali tidak! Karena aku sendiri pun orang Israel, dari keturunan Abraham, dari suku Benyamin.” (Roma 11:1)

Pelajaran pekan ini mencakup Roma 10 dan 11, dengan satu fokus khusus pada pasal 11. Adalah penting untuk membaca kedua pasal secara keseluruhan agar dapat terus mengikuti alur pikiran Paulus.
Kedua pasal ini telah dan tetap menjadi pokok dari banyak pembahasan. Namun, satu hal jelas terlihat dari kedua pasal ini, yaitu kasih Allah bagi manusia serta kerinduan-Nya yang besar untuk melihat semua manusia di selamatkan. Tidak ada penolakan bersama terhadap siapa pun bagi keselamatan. Roma 10 degan jelas berkata “tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani” (Roma 10:12)—semua orang berdosa dan membutuhkan kasih karunia Allah yang diberikan kepada dunia melalui Yesus Kristus. Kasih karunia ini datang bagi semua orang—bukan berdasarkan kebangsaan, bukan karena kelahiran, dan bukan oleh perbuatan-perbuatan hukum melainkan melalui iman dalam Yesus, yang telah mati sebagai Pengganti bagi orang-orang berdosa dimana saja. Peran boleh saja berubah, tetapi rencana dasar keselamatan tidak pernah berubah.
Paulus melanjutkan tema di pasal 11. Disini juga sebagaimana dinyatakan sebelumnya, adalah penting untuk mengerti bahwa ketika Paulus berbicara tentang pemilihan dan panggilan, intinya bukanlah pemilihan dan panggilan untuk keselamatan melainkan untuk peran dalam rencana Allah untuk menjangkau dunia. Tidak ada kelompok yang telah ditolak bagi keselamatan; hal ini tak pernah dibahas. Gantinya, setelah Salib, dan setelah diperkenalkannya Injil kepada bangsa-bangsa lain, khususnya melalui Paulus, maka pergerakan awal orang-orang percaya—baik orang Yahudi maupun bangsa lain—mengambil tanggung jawab menginjil dunia ini.

*Pelajari Pelajaran Pekan Ini untuk Sabat, 11 September .