Bahan Pelajaran Sekolah Sabat dapat dibuka disini. untuk mencari tanggal yang anda inginkan cari di kotak serch.

Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan padamu.

Cara berbagi Pelajaran Sekolah Sabat ke teman Facebook
Klick Disini

Selasa, 24 Agustus 2010

Jumat, 3 September 2010

PELAJARI SELANJUTNYA: Baca Ellen G. White, “Para Pembaru Inggris Yang Muncul Kemudian,” dalam Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 256-276; Faith and Works,” hlm. 530,531, dalam The SDA Encyclopedia; Komentar Ellen G. White, hlm. 1099,110, dalam The SDA Bible Commentary, jld, 1.

“Ada sesuatu pemilihan individu-individu dan suatu umat, satu-satunya pemilihan yang terdapat dalam firman Allah, dimana manusia dipilih untuk diselamatkan. Banyak orang pada akhirnya melihat, menyangka mereka pasti terpilih untuk memperoleh sukacita surgawi; tetapi ini bukanlah pemilihan yang dinyatakan Alkitab. Manusia dipilih untuk mengerjakan keselamatannya sendiri dengan takut dan gentar. Ia terpilih untuk mengenakan perlengkapan senjata untuk melakukan peperangan iman yang baik. Ia terpilih untuk menggunakan sarana yang telah ditempatkan Allah pada jangkauannya untuk berperang melawan semua hawa nafsu yang tidak suci, sementara Setan sedang berusaha mempermainkan keselamatan jiwanya. Ia terpilih untuk berjaga dan berdoa, untuk menyelidiki Alkitab, dan untuk menghindar masuk dalam pencobaan. Ia terpilih untuk terus-menerus memiliki iman. Ia terpilih untuk menurut setiap firman yang keluar dari mulut Allah, supaya ia bukan hanya menjadi pendengar tetapi juga pelaku firman. Inilah pemilihan menurut Allkitab.” – Ellen G. White, Testimonies to Ministers and Gospel Wokers, hlm. 453, 454.
“Tidak ada pikiran fana yang dapat memahami sepenuhnya akan tabiat atau hasil karya Yang Mahakekal. Dengan mencari kita tidak dapat menemukan Allah. Bagi pikiran yang berbudaya paling kuat dan paling tinggi, juga bagi pikiran yang paling lemah dan paling dungu, Oknum kudus itu harus tetap terselubung dalam rahasia. Tetapi walaupun ‘awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya’ (Mazmur 97:2). Sejauh ini kita dapat mengerti pemeliharaan-Nya bagi kita dengan melihat pengasihan-Nya yang tidak terhingga disatukan dengan kuasa yang kekal.” – Ellen G. White, Membina Pendidikan Sejati, hlm. 155.

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DIDISKUSIKAN:
  1. Beberapa orang Kristen mengajarkan bahwa, bahkan sebelum kita lahir, Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan dan sebagian orang untuk binasa. Jika umpamanya Anda adalah salah seorang yang telah ditetapkan oleh Allah, dengan kasih dan hikmat-Nya, yang tidak terbatas, untuk binasa, maka apapun pilihan yang Anda buat, Anda telah ditetapkan untuk binasa, yang menurut banyak orang artinya adalah dibakar dalam neraka selama-lamanya. Dengan kata lain, bukan melalui pilihan Anda sendiri, melalui hanya penetuan Allah, ada orang yang telah ditakdirkan untuk hidup tanpa ada satu hubungan keselamatan dengan Yesus pada kehidupan di dunia ini, dan akan menjalani satu kehidupan berikutnya dengan terbakar selama-lamanya dalam api neraka. Apakah yang salah dengan gambaran ini? Bagaimanakah pandangan ini bertentangan dengan pemahaman kita tentang pokok-pokok ajaran in?
  2. Bagaimanakah anda melihat Gereja MAHK dan panggilannya di dunia pada zaman ini sejajar dengan peranan Israel dulu kala di zamannya? Apakah persamaan dan perbedaannya? Dalam hal apakah kita lebih baik? Atau lebih buruk? Beri alasan untuk jawaban Anda.

Kamis, 2 September 2010

SANDUNGAN

“jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguh pun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman” (Roma 9:30-32). Apakah pekabaran ayat ini, dan, lebih penting lagi, bagaimanakah kita mengerti pekabaran ini, yang dituliskan pada satu waktu dan tempat tertentu, serta menerapkan prinsip-prinsipnya pada kita di zaman ini? Bagaimanakah kita bisa mencegah diri melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dalam konteks kita seperti yang dilakukan orang Israel di zaman mereka?

Dengan kata-kata yang tidak bisa di salah mengerti, Paulus menerangkan kepada orang sebangsanya mengapa mereka kehilangan sesuatu yang Allah mau mereka miliki, dan lebih dari pada itu, sesuatu yang sebenarnya sedang mereka kejar tetapi tidak tercapai.
Menariknya, orang-orang bangsa lain yang telah diterima Allah tidak berjuang keras untuk perkenanan tersebut. Mereka selama ini telah mengejar kepentingan dan tujuan mereka sendiri pada saat pekabaran Injil itu datang kepada mereka. Memahami nilai Injil itu, mereka menerimanya. Allah menyatakan mereka benar karena mereka menerima Yesus Kristus sebagai Pengganti mereka. Ini adalah sebuah transaksi iman.
Masalah Israel adalah mereka tersandung pada sebuah batu sandungan (lihat Rm. 9:33). Beberapa, tidak semua (Lihat Kisah 2:41), telah menolak untuk menerima Yesus dari Nazaret sebagai Mesias yang diutus Allah. Ia tidak memenuhi harapan-harapan mereka dari Seorang Mesias; makanya, pada saat Dia datang, mereka menolak Dia.
Sebelum pasal ini berakhir, Paulus mengutip lagi sebuah ayat Perjanjian Lama: “Seperti ada tertulis: ‘sesungguhnya, aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan’” (Roma 9:33). Dalam ayat ini Paulus kembali menunjukkan betapa pentinggnya iman yang sejati itu di dalam rencana keselamatan (Lihat juga 1 Pet. 2:6-8). Sebuah batu sandungan? Namun, barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan mendapat malu? Ya, bagi banyak orang, Yesus adalah sebuah batu sandungan, tetapi bagi mereka yang mengenal-Nya, dan mengasihi-Nya, Dia adalah suatu jenis lain batu karang, “Gunung Batu Keselamatan” (Mzm. 8927).

Pernahkah Anda dapati Yesus sebagai suatu “batu sentuhan” atau suatu “batu sandungan”? Jika ya, dalam cara apa? Maksudnya, apakah yang Anda sedang lakukan yang menggiring Anda pada situasi tersebut? Bagaimanakah Anda keluar dari keadaan itu, dan apakah yang telah Anda pelajari sehingga diharapkan Anda tidak akan pernah lagi mendapati diri anda dalam jenis hubungan yang bertentangan dengan Yesus?

Rabu, 1 September 2010

AMI: “UMAT-KU”

Dalam Roma 9:25, Paulus mengutip Hosea 2:22, dan di ayat 26 dia mengutip Hosea 1:10. Latar belakangnya adalah Allah memerintahkan Hosea untuk mengambil “seorang perempuan sundal” (Hosea 1:2) sebagai sebuah ilustrasi hubungan Allah dengan Israel, karena bangsa itu telah mengikuti allah-allah asing. Anak-anak yang lahir dari pernikahan ini diberikan nama-nama yang menandakan penolakan dan hukuman Allah atas Israel yang menyembah berhala. Anak ketiga dinamakan Lo-Ami, yang arti harfiahnya “bukan umat-Ku.”
Namun ditengah semua ini, Hosea menubuatkan harinya akan datang dimana, setelah menghukum umat-Nya, Allah akan memulihkan nasib mereka, menghancurkan allah-allah palsu mereka, dan mengikat sebuah perjanjian dengan mereka. (Lihat Hos. 2:11-19). Pada titik ini mereka yang tadinya Lo-Ami, “bukan umat-Ku,” akan menjadi Ami, “umat-Ku.”
Di zaman Paulus Ami adalah “bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari bangsa-bangsa lain” (Roma 9:24). Betapa sebuah penyajian Injil yang jelas dan berkuasa, suatu Injil yang sejak awalnya dimaksudkan bagi seluruh dunia. Tidak heran sebagai orang-orang Advent kita ambil bagian dalam panggilan kita berdasarkan ayat ini: “dan aku melihat seorang malaikat lain terbang ditengah-tengah langit dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakannya kepada mereka yang diam diatas bumi dan kepada semua bangsa dan suku dan bahasa dan kaum” (Wahyu 14:6). Zaman ini, sebgaiman di zaman Paulus, dan sebagaimana di zaman Israel dulu kala, kabar baik keselamatan itu harus disebarluaskan keseluruh dunia.

Baca Roma 9:25-29. (Perhatikan berapa banyak Paulus mengutip Perjanjian Lama untuk menekankan ajarannya tentang apa yang terjadi di zamannya). Apakah pekabaran dasar yang ditemukan dalam ayat-ayat ini? Pengharapan apakah yang ditawarkan kepada pembacanya?

Fakta bahwa beberapa sanak saudara Paulus telah menolak panggilan Injil membuat dia, “berdukacita dan selalu bersedih hati” (Roma 9:2). Tetapi sedikitnya ada satu umat sisa. Janji-janji Allah tidak gagal, sekalipun manusia gagal. Pengharapan yang bisa kita peroleh adalah pada akhirnya, janji-janji Allah akan digenapi, dan kita menuntut janji-janji itu bagi diri kita, hal itu akan kita penuhi dalam diri kita juga.

Berapa seringkah orang tidak memenuhi janji pada Anda? Berapa seringkah Anda gagal memenuhi janji pada diri sendiri dan juga pada orang lain? Mungkin lebih dari yang bisa Anda hitung, bukan? Pelajaran-pelajaran apakah yang dapat Anda pelajari dari kegagalan-kegagalan tersebut dan dimana seharusnya Anda menaruh kepercayaan Anda?

Selasa, 31 Agustus 2010

RAHASIA-RAHASIA

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yes. 55:8,9)

Baca Roma 9:17-24. Dengan apa yang sudah kita baca sejauh ini, bagaimanakah kita memahami pokok ajaran Paulus di ayat ini?

Dalam memperlakukan Mesir di zaman Keluaran sebagaimana yang telah diperbuat-Nya, Allah sedang bekerja bagi keselamatan umat manusia. Penyataan [Wahyu] Allah akan diri-Nya dalam malapetaka di Mesir dan kelepasan umat-Nya telah dirancang untuk menjadi sebuah undangan bagi rakyat berbagai bangsa untuk meninggalkan allah-allah mereka dan datang menyembah Dia.
Firaun dengan jelas telah membuat keputusan melawan Allah, sehingga dalam mengeraskan hatinya Allah tidak sedang memutuskan dia dari kesempatan keselamatan. Pengerasan hatinya adalah terhadap himbauan untuk membiarkan Israel pergi, dan bukan terhadap panggilan Allah bagi Firaun untuk menerima keselamatan pribadi. Kristus telah mati bagi Firaun, sama seperti halnya bagi Musa, Harun dan seluruh Bangsa Israel.
Pokok penting dari semua ini adalah bahwa sebagai manusia yang telah jatuh dalam dosa, kita mempunyai pandangan sempit terhadap dunia, dan terhadap Allah serta bagaimana Dia bekerja di dunia ini. Bagaimanakah bisa kita berharap untuk memahami semua rancangan Allah sementara dunia alami ini, kesegala arah kita memandang, menyimpan berbagai rahasia yang kita tidak dapat mengerti? Lagi pula, baru seratus lima puluh tahun atau dua ratus tahun lalu para dokter mendapati bahwa adalah gagasan baik untuk mencuci tangan mereka sebelum melakukan pembedahan! Demikianlah selama ini kita tenggelam di dalam kepongahan. Dan siapa tahu, jika waktu mengizinkan, masih banyak hal lain lagi yang akan kita temukan dimasa mendatang yang akan menyatakan betapa kita terlalu tenggelam didalam kebodohan kita hari ini?

Tentu saja, kita tidak selalu memahami jalan-jalan Allah, tetapi Yesus telah datang untuk menyatakan pada kita seperti apa Allah itu (Yoh 14:9). Jika demikian, mengapakah ditengah rahasia-rahasia kehidupan serta peristiwa-peristiwa yang tak terduga, sangat penting bagi kita untuk merenungkan tabiat Kristus dan apa yang telah dinyatakan-Nya kepada kita tentang Allah dan kasih-Nya bagi kita? Bagaimanakah pengenalan akan tabiat Allah menolong kita tetap setia ditengah-tengah berbagai kesukaran yang tampaknya tidak benar dan tidak adil?

Senin, 30 Agustus 2010

TERPILIH

“Dikatakan kepada Ribka: Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda.” Seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” (Roma 9:12,13).

Sebagaimana dinyatakan dalam pendahuluan pelajaran pekan ini, adalah mustahil untuk memahami Roma 9 dengan semestinya sebelum seseorang mengakui bahwa paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan pribadi. Disini sedang membahas tetang peran-peran khusus yang di embankan Allah pada orang-orang tertentu untuk di jalankan. Allah mengingini Yakub menjadi leluhur satu umat yang akan menjadi agen-Nya yang khusus untuk pekabaran Injil di dunia ini. Tidak ada petunjuk dalam ayat ini bahwa Esau tidak bisa diselamatkan. Allah mau dia diselamatkan sebesar keinginannya agar semua orang diselamatkan.

Baca Roma 9:14,15. Bagaimanakah kita memahami kalimat ini dalam konteks apa yang sudah kita baca?

Sekali lagi, Paulus tidak sedang berbicara tentang keselamatan pribadi, karena dalam hal itu Allah mengulurkan kemurahan bagi semua orang, karena Dia “menghendaki supaya semua orang diselamatkan” (1 Tim. 2:4). “karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11). Tetapi Allah bisa memilih bangsa-bangsa untuk memainkan sebuah peranan, dan sekalipun mereka bisa menolak menjalankan peran tersebut, mereka tidak bisa mencegah pilihan Allah. Betapapun kerasnya kemauan Esau, dia tidak bisa menjadi leluhur dari Mesias atau pun nenek moyang umat pilhan.
Pada Akhirnya, bukanlah pilihan serampangan Allah, bukan juga sebuah dekret Ilahi, oleh mana keselamatan tertutup bagi Esau. Pemberian kasih karunia-Nya melalui Kristus adalah Cuma-cuma bagi semua orang. Kita semua telah dipilih untuk diselamatkan, bukan binasa (Efesus 1:4,5; 2 Petrus 1:10). Pilihan kita sendirilah, bukan pilihan Allah, yang menghalangi kita dari janji hidup kekal dalam Kristus. Yesus telah mati bagi setiap manusia. Namun, Allah telah menyatakan dalam Firman-Nya syarat-syarat oleh mana setiap orang akan dipilih untuk hidup kekal: iman dalam Kristus, yang menuntun orang berdosa yang sudah dibernarkan menuju pada penurutan.

Anda, hanya Anda, seakan tidak pernah ada orang lain, telah dipilih di dalam Kristus bahkan sebelum dasar dunia ini diletakkan, untuk memperoleh keselamatan. Ini adalah panggilan Anda, semua diberikan pada Anda oleh Allah, melalui Yesus. Betapa kesempatan istimewa, betapa sebuah pengharapan! Mengapa, dengan semua yang ada, segala sesuatu menjadi suram dibandingkan dengan janji akbar ini? Mengapa akan menjadi tragedi paling dasyat untuk membiarkan dosa, diri, dan perbuatan daging merampas dari Anda semua yang telah dijanjikan pada Anda dalam Yesus?

Minggu, 29 Agustus 2010

Beban Paulus

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan iman dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kau katakan kepada orang Israel.” (Kel.19:6).

Allah membutuhkan satu umat misionaris untuk menginjil suatu dunia yang tenggelam dalam kekafiran, kegelapan, dan penyembahan berhala. Dia tadinya memilih orang Israel dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Dia telah berencana agar mereka menjadi sebuah bangsa teladan dan dengan demikian mereka menarik orang lain kepada Allah yang benar. Adalah maksud Allah agar oleh penyataan tabiat-Nya melalui Israel, dunia akan ditarik kepada-Nya. Melalui ajaran tatacara korban, Kristus seharusnya ditinggikan dihadapan bangsa-bangsa, dan semua yang mau memandang pada-Nya akan hidup. Saat jumlah Israel bertambah, begitu berkat-berkat mereka makin melimpah, seharusnya mereka meluaskan batas-batas mereka hingga kerajaan mereka bisa merangkul dunia ini.

Baca Roma 9:1-12. Apakah pokok yang Paulus tekankan disini tentang kesetiaan Allah ditengah kegagalan manusia?
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Paulus sedang membangun sebuah garis argument dimana dia akan menunjukkan bahwa janji yang dibuat bagi orang Israel tidak gagal sepenuhnya. Ada satu umat sisa melalui siapa Allah masih bertekad untuk bekerja. Untuk menegakkan keabsahan gagasan tentang umat sisa, Paulus masuk kembali kedalam sejarah Israel. Dia menunjukkan bahwa Allah selama ini selalu selektif: (1) Allah tidak memilih semua benih Abraham untuk menjadi perjanjian-Nya, hanya dari garis keturunan Ishak. (2) Dia tidak memilih semua keturunan Ishak, hanya yang dari Yakub saja.
Adalah juga penting untuk melihat bahwa keturunan, ataupun nenek moyang, tidak menjamin keselamatan. Anda bisa saja dari keturunan yang benar, keluarga yang benar, bahkan dari gereja yang benar, tetapi tetap hilang, tetap berada di luar janji itu. Imanlah, yakni suatu iman yang bekerja oleh kasih, yang menyatakan mereka yang benar-benar “anak-anak perjanjian” (Roma 9:8).

Perhatikan anak kalimat di Roma 9:6 “Karena tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.” Pekabaran penting apakah yang kita dapati disini bagi diri kita, sebagai orang-orang Advent, yang dalam banyak hal memainkan peran yang serupa di zaman kita ini seperti yang dijalankan juga oleh Israel dulu di zaman mereka?

Minggu, 29 Agustus 2010

Beban Paulus

“Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan iman dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kau katakan kepada orang Israel.” (Kel.19:6).

Allah membutuhkan satu umat misionaris untuk menginjil suatu dunia yang tenggelam dalam kekafiran, kegelapan, dan penyembahan berhala. Dia tadinya memilih orang Israel dan menyatakan diri-Nya kepada mereka. Dia telah berencana agar mereka menjadi sebuah bangsa teladan dan dengan demikian mereka menarik orang lain kepada Allah yang benar. Adalah maksud Allah agar oleh penyataan tabiat-Nya melalui Israel, dunia akan ditarik kepada-Nya. Melalui ajaran tatacara korban, Kristus seharusnya ditinggikan dihadapan bangsa-bangsa, dan semua yang mau memandang pada-Nya akan hidup. Saat jumlah Israel bertambah, begitu berkat-berkat mereka makin melimpah, seharusnya mereka meluaskan batas-batas mereka hingga kerajaan mereka bisa merangkul dunia ini.

Baca Roma 9:1-12. Apakah pokok yang Paulus tekankan disini tentang kesetiaan Allah ditengah kegagalan manusia?
________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Paulus sedang membangun sebuah garis argument dimana dia akan menunjukkan bahwa janji yang dibuat bagi orang Israel tidak gagal sepenuhnya. Ada satu umat sisa melalui siapa Allah masih bertekad untuk bekerja. Untuk menegakkan keabsahan gagasan tentang umat sisa, Paulus masuk kembali kedalam sejarah Israel. Dia menunjukkan bahwa Allah selama ini selalu selektif: (1) Allah tidak memilih semua benih Abraham untuk menjadi perjanjian-Nya, hanya dari garis keturunan Ishak. (2) Dia tidak memilih semua keturunan Ishak, hanya yang dari Yakub saja.
Adalah juga penting untuk melihat bahwa keturunan, ataupun nenek moyang, tidak menjamin keselamatan. Anda bisa saja dari keturunan yang benar, keluarga yang benar, bahkan dari gereja yang benar, tetapi tetap hilang, tetap berada di luar janji itu. Imanlah, yakni suatu iman yang bekerja oleh kasih, yang menyatakan mereka yang benar-benar “anak-anak perjanjian” (Roma 9:8).

Perhatikan anak kalimat di Roma 9:6 “Karena tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.” Pekabaran penting apakah yang kita dapati disini bagi diri kita, sebagai orang-orang Advent, yang dalam banyak hal memainkan peran yang serupa di zaman kita ini seperti yang dijalankan juga oleh Israel dulu di zaman mereka?

Pelajaran 10, 28 Agustus – 3 September 2010

Penebusan bagi Orang
Yahudi dan Bangsa Lain

Sabat Petang

BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Roma 9.

Ayat Hafalan: “Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Ia mendegarkan hati siapa yang dikehendaki-Nya” (Roma 9:18)

Seperti ada tertulis, ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’… Sebab Ia berfirman kepa Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan . . dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati’’’ (Roma 9: 13,15)
Apakah yang dibicarakan Paulus di sini? Bagaimanakah dengan kuasa kemauan dan kebebasan memilih, yang tanpa itu hanya sedikit makna dari apa yang kita percayai? Bukankah kita bebas untuk memilih atau menolak Allah, atau apakah ayat-ayat ini mengajarkan bahwa ada orang-orang tertentu yang dipilih untuk diselamatkan dan yang lain untuk binasa, apa pun pilihan pribadi mereka?
Seperti biasa, jawabannya didapatkan oleh melihat gambaran yang lebih besar dari apa yang Paulus sedang katakan. Paulus sedang menyusuri sebuah alur argument dimana dia mencoba menunjukkan hak Allah untuk memilih mereka yang mau digunakan-Nya sebagai orang-orang yang “terpilih.” Lagi pula, Allahlah yang memikul tanggung jawab utama dalam menginjil dunia. Jadi, mengapa Ia tidak dapat memilih sebagai agen-agen-Nya siapa saja yang Dia kehendaki? Selama Allah tidak memutuskan seorang pun dari kesempatan keselamatan, tindakan seperti yang dilakukan Allah itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan kehendak. Bahkan lebih penting lagi, itu tidak bertentangan dengan kebenaran besar bahwa Kristus telah mati bagi semua manusia, dan kerinduan-Nya adalah agar setiap orang memperoleh keselamatan.
Selama kita mengingat bahwa Roma 9 bukan membahas keselamatan pibadi dari mereka yang disebutkannya melainkan dengan panggilan mereka untuk mengemban tugas tertentu, tidak ada yang seukar dalam pasal ini.

Minggu, 22 Agustus 2010

Cara berbagi Pelajaran Sekolah Sabat ke teman Facebook

  1. klik hari atau tanggal yg di inginkan
  2. Copy alamat yang diatas contoh: ( http://sonysimbolon.blogspot.com/2010/08/minggu-22-agustus-2010.html ) ini contoh untuk hari minggu tgl 22 agustus 2010
  3. kemudian paste di tautan wall teman anda.
  4. Pilih gambar cover yang anda inginkan
  5. klik lampirkan
  6. klik bagikan selamat mencoba

Rabu, 18 Agustus 2010

Jumat, 27 Agustus 2010

PELAJARI SELANJUTNYA: Ellen G. White, “Para Pembaru Inggris yang Muncul Kemudian,” Alfa dan Omega, jld. 8, hlm.256-276; “Yesus Dibabtiskan,” hlm. 101. “DI Kapernaum,” hlm. 261-272, dalam Alfa dan Omega, jld. 5; “Janganlah Gelisa Hatimu,” Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 304; “Seumpama Ragi,” dalam Membina Kehidupan Abadi, hlm.66; “Letters to Physicians,” hlm. 126-129, dalam Testimonies for the Church, jld8.

Rencana keselamatan tidak menawarkan bagi orang percaya sebuah kehidupan yang bebas dari penderitaan dan kesukaran diatas dunia ini. Sebaliknya, rencana tersebut memanggil mereka untuk mengikuti Kristus pada jalan penyangkalan diri dan celaan… Melalui kesukaran dan penganiayaanlah tabiat Kristus dihasilkan dan dinyatakan dalam umat-Nya…. Oleh ambil bagian dalam penderitaan Kristus kita dididik dan didisiplin serta dipersiapkan untuk turut ambil bagian dalam kemuliaan yang akan datang.” – The SDA Bible Commentary, jld. 6 hlm. 568,569.
“Rantai yang telah diulurkan dari takhta Allah cukup panjang untuk menjangkau jurang-jurang yang paling dalam sekalipun. Kristus sanggup untuk mengangkat orang yang paling berdosa dari dalam lubang kemerosotan, dan menempatkan mereka di tempat dimana mereka akan diakui sebagai anak-anak Allah, ahli-ahli waris bersama Kristus dari warisan yang baka.” – Ellen G. White, Testimonies for the Church, jld. 7, hlm.229.
“Dia yang paling dihormati di seluruh surga telah datang ke dunia ini untuk mengambil sifat manusia, memberi kesaksian kepada malaikat-malaikat yang sudah jatuh serta kepada penduduk dunia-dunia yang tidak jatuh dalam dosa bahwa melalui pertolongan Ilahi yang telah disediakan, setiap orang bisa berjalan di jalan penurutan terhadap perintah-perintah Allah…
“Tebusan kita telah dibayar oleh Juruselamat kita. Tidak ada yang perlu diperhamba oleh Setan. Kristus berdiri dihadapan kita sebagai penolong kita yang mahakuasa.” – Ellen G. White, Selected Message, jld. 1, hlm. 309.

PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
  1. Baca kembali kutipan-kutipan Ellen G. White diatas. Pengharapan apakah yang kita bisa ambil dari kutipan-kutipan tersebut bagi diri kita? Lebih penting, bagaimanakah kita bisa menjadikan janji-janji kemenangan ini nyata dalam hidup kita? Mengapakah, dengan begitu banyak yang ditawarkan kepada kita di dalam Kristus, kita masih sangat kurang daripada yang sebenarnya kita bisa capai?
  2. Apakah cara-cara praktis sehari-hari oleh mana pikiran kita “memikirkan hal-hal yang dari Roh” (Roma 8:5). Apakah artinya? Apakah yang di inginkan oleh Roh? Apakah yang anda tonton, baca, atau pikirkan yang menyulitkan Anda sukar mencapai hal itu dalam hidup Anda?
  3. Renungkan tentang gagasan bahwa kita harus berada di pihak yang satu atau pihak yang lain dalam pertentangan besar ini, dengan tidak ada netral. Apakah implikasi dari kenyataan yang sebenarnya itu? Bagaimanakah seharusnya kesadaran akan kebenaran penting ini mempengaruhi cara kita hidup dan membuat pilihan, bahkan dalam hal-hal yang “kecil” sekalipun?


Kamis, 26 Agustus 2010

Adopsi Lawan Perhambaan

Bagaimanakah Paulus menggambarkan hubungan yang baru di dalam Kristus? Roma 8:15. Pengharapan apakah yang ditemukan dalam janji ini bagi kita? Bagaimanakah kita menjadikannya nyata dalam hidup kita?

Hubungan yang baru ini digambarkan sebagai kemerdekaan dari ketakutan. Seorang hamba terikat dalam perhambaan. Dia hidup dalam keadaan yang takut terus-menerus akan tuannya. Dia bertahan untuk tidak mendapatkan apa-apa selama tahun-tahun pelayanannya yang panjang.
Tidak demikian dengan orang yang menerima Yesus Kristus. Pertama, dia melakukan pelayanan sukarela. Kedua, dia melayani tanpa takut, karena “kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1Yoh. 4:18). Ketiga, diangkat sebagai anak, dia menjadi ahli waris dari warisan yang bernilai tak terhingga.
“Roh perhambaan ditandai dengan usaha untuk hidup sesuai dengan agama hukum, melalui perjuangan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan hukum dengan kekuatan kita sendiri. Pengharapan ada pada kita hanya jika kita datang dibawah perjanjian Abraham, yang adalah perjanjian kasih karunia oleh iman dalam Yesus Kristus.” – Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld 6, hlm.1077.

Apakah yang memberi kita jaminan bahwa Allah sesungguhnya telah menerima kita sebagai anak-anak-Nya? Roma 8:16

Kesaksian batiniah oleh Roh memastikan penerimaan kita. Sementara tidaklah aman untuk mengandalkan perasaan semata-mata, mereka yang dengan pemahaman mereka yang terbaik telah mengikuti terang Firman itu akan mendengar sebuah suara pembuktian dalam batinnya yang memastikan bahwa mereka telah diterima sebagai anak Allah.
Sesungguhnya, Roma 8:17 mengatakan pada kita bahwa kita adalah ahli-ahli waris; yakni, kita adalah bagian dari keluarga Allah dan sebagai ahli-ahli waris, sebagai anak-anak, kita menerima warisan yang indah dari Bapa kita. Kita tidak mengusahakannya; itu diberikan kepada kita berdasarkan status baru kita dalam Allah, sebuah status yang diberikan kepada kita melalui kasih karunia-Nya, yang dimungkinka bagi kita karena kematian Yesus demi kepentingan kita.

Berapa dekatkah anda kepada Tuhan? Apakah Anda benar-benar mengenal-Nya, atau hanya sekedar tahu tentang Dia? Peruabahan-perubahan apakah yang harus Anda buat dalam hidup Anda untuk mempunyai sebuah hidup yang lebih dekat dengan Pencipta dan Penebus Anda? Apakah yang menahan Anda, dan mengapa?

Rabu, 25 Agustus 2010

Roh Di Dalam Kita

Paulus melanjutkan temanya, membandingkan dua kemungkinan yang dihadapi orang dalam cara hidup mereka: Apakah menurut Roh, yaitu, Roh Kudus Allah, yang dijanjikan kepada kita, ataukah menurut sifat dosa dan daging mereka. Yang satu menuntun kepada hidup kekal, yang lain kepada maut kekal. Tidak ada wilayah netral. Atau, sebagaimana Yesus katakan: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama aku, ia mencerai-beraikan” (Mat. 12:30). Sukar untuk disampaikan lebih jelas lagi, atau lebih hitam-putih dari pernyataan tersebut.

Baca Roma 8:9-14. Apakah yang dijanjikan kepada mereka yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus?
_____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Hidup “dalam daging” dibandingkan dengan hidup “dalam Roh.” Hidup “dalam Roh” dikendalikan oleh Roh Allah, yakni Roh Kudus. Dalam pasal ini Dia disebut Roh Kristus, mungkin dalam arti Dia sebagai seorang Wakil Kristus, dan melalui Dia Kristus tinggal dalam orang percaya (ay. 9,10).
Dalam ayat-ayat yang sama, Paulus Kembali kepada satu kiasan yang dia telah gunakan dalam Roma 6:1-11. Secara kiasan, dalam babtisan “tubuh dosa,” yakni tubuh yang melayani dosa, dibinasakan. “Manusia lama kita telah turut disalibkan [dengan dia]” (ay.6). tetapi, sebagaimana dalam babtisan, tidak hanya ada penguburan tetapi juga sebuah kebangkitan, sehingga orang yang dibabtis bangkit untuk berjalan dalam hidup baru. Ini berarti mematikan diri yang lama itu, sebuah pilihan yang kita sendiri harus lakukan setiap hari, setiap saat. Allah tidak membinasakn kebebasan manusia. Bahkan setelah manusia lama dosa itu dibinasakan, masilah mungkin untuk berbuat dosa. Kepada jemaat di Kolose Paulus menuliskan, “Matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi” (Kol. 3:5).
Demikianlah, setelah pertobatan masih akan ada pergumulan melawan dosa. Bedanya adalah orang yang didalamnya Roh berdiam kini memiliki kuasa Ilahi untuk menang. Lebih jauh, karena orang itu secara mukjizat dimerdekakan dari perhambaan dosa, dia diwajibkan untuk tidak pernah melayani dosa lagi.

Renungkanlah kembali gagasan bahwa Roh Allah, yang telah membangkitkan Yesus dari kematian, adalah Roh yang sama yang tinggal dalam kita. Pikirkan tentang kuasa yang tersedia bagi kita! Apakah yang masih saja menghalangi kita untuk berserah pada kuasa itu sebagaimana seharusnya?

Selasa, 24 Agustus 2010


Daging Lawan Roh

Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:5,6). Renungkan ayat ini. Pekabaran dasar apakah yang datang dari ayat ini? Apakah yang dikatakannya pada Anda tentang bagaimana seharusnya Anda hidup?

“Menurut,” di sini, digunakan dalam pengertian “sesuai dengan” (Yunani kata). “mekirkan” di sini berarti menetapkan pikiran. Sekelompok orang menetapkan pikiran mereka untuk memuaskan keinginan-keinginan daging; yang lain menetapkan pikiran mereka pada hal-hal yang dari Roh, mengikuti perintah-Nya. Oleh karena pikiran menentukan tindakan; kedua kelompok berbeda dalam hidup dan tindakan mereka.

Apakah yang tak bisa dilakukan oleh pikiran daging? Roma 8:7,8.
____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Kenyataannya, menetapkan pikiran untuk memuaskan keinginan-keinginan daging berarti berada dalam permusuhan melawan Allah. Orang yang pikirannya seperti itu tidak peduli dengan melakukan kehendak Allah. Dia bahkan sedang berada dalam pembrontakan melawan Dia., secara terang-terangan mencemooh hukum Allah. Secara khusus Paulus mau menekankan bahwa, terpisah dari Kristus adalah mustahil untuk memelihara hukum Allah. Berulang-ulang Paulus kembali kepada tema yang sama ini; betapa keras sekalipun usah seseorang, jika terpisah dari Kristus maka dia tidak bisa menurut hukum.
Tujuan Khusus Paulus adalah untuk meyakinkan orang Yahudi bahwa mereka membutuhkan lebih daripada “hukum Taurat.” Oleh tingkah laku yang mereka tunjukkan, sekalipun telah menerima penyataan Ilahi, mereka bersalah dalam melakukan dosa-dosa yang sama yang dilakukan bangsa lain juga (Roma 2). Pelajaran dari semua ini adalah mereka membutuhkan Mesias. Tanpa Dia mereka akan menjadi hamba dosa, tidak sanggup melepaskan diri dari kekuasaannya.
Inilah jawaban Paulus terhadap orang Yahudi yang tidak dapat memahami mengapa, apa yang Allah telah berikan pada mereka dalam Perjanjian Lama sudah tidak lagi cukup untuk keselamatan. Paulus mengakui bahwa apa yang mereka telah lakukan selama ini semuanya baik, tetapi mereka juga perlu menerima Mesias yang kini telah datang.

Lihak kembali ke 24 jam yang lalu. Apakah perbuatan-perbuatan Anda berasal dari Roh atau dari daging? Apakah yang jawaban anda katakan tentang siapa diri Anda? Jika dari daging, perubahan-perubahan apakah yang harus Anda buat, dan bagaimanakah Anda membuat perubahan-perubahan tersebut?

Senin, 23 Agustus 2010

Apa Yang Hukum Tak Dapat Lakukan

Betapapun baiknya, “hukum” itu (hukum upacara, hukum moral, atau bahkan kedua-duanya) tidak dapat melakukan bagi kita apa yang paling kita butuhkan, yaitu menyediakan bagi kita jalan keselamatan, sebuah sarana untuk menyelamatkan kita dari penghukuman maut yang di bawa dosa. Untuk hal tersebut, kita membutuhkan Kristus.

Baca Roma 8:3,4. Apakah yang telah Kristus lakukan, yang pada hakikatnya tidak dapat dilakukan oleh hukum itu?

Allah menyediakan sebuah penawar dengan “jalan mengutus anak-Nya sendiri dalam daging,” dan Dia “menghukum dosa di dalam daging.” Penjelmaan Kristus adalah sebuah langkah penting dalam rencana keselamatan. Adalah wajar untuk meninggikan Salib, tetapi dalam pelaksanaan rencana keselamatan, kehidupan Kristus “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” adalah hal yang mutlak penting juga.
Sebagai hasil dari apa yang Allah telah lakukan dalam mengutus Kristus, kini telah menjadi mungkin bagi kita untuk memenuhi tuntutan benar dari hukum itu; yaitu, untuk melakukan hal-hal yang benar yang diwajibkan oleh hukum. “Dibawah hukum Taurat” (Roma 6:14), hal ini mustahil; “dalam Kristus” hal ini mungkin.
Namun, kita harus ingat bahwa melakukan apa yang diwajibkan hukum bukan berarti memelihara hukum dengan cukup baik untuk mendapatkan keselamatan. Itu bukan sebuah pilihan – tidak pernah. Secara sederhana hal ini berarti menghidupkan kehidupan yang disanggupkan Allah untuk kita jalani; ini berarti sebuah hidup penurutan, kehidupan yang didalamnya kita telah “menyalibkan segala hawa nafsu dan segala keinginannya” (Gal 5: 24), satu kehidupan yang didalamnya kita memantulkan tabiat Kristus.
“Hidup [berjalan]” dalam ayat 4 adalah sebuah ungkapan kiasan yang berarti “berperilaku.” Kata daging disini menunjukkan seorang yang belum lahir kembali, entah sebelum ataupun sesudah penghukuman. Hidup didalam daging berarti dikendalikan oleh keinginan-keinginan yang mementingkan diri sendiri.
Sebaliknya, hidup [berjalan]didalam Roh berarti memenuhi kewajiban-kewajiban benar dari hukum itu. Hanya melalui pertolongan Roh Kudus kita dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu. Terpisah dari Kristus, tidak ada kemerdekaan seperti itu. Orang yang diperhamba dosa mendapati, mustahil untuk melakukan kebaikan yang dipilih untuk lakukan (lihat Roma 7 :15,18).

Seberapa baikkah Anda dalam memelihara hukum? Mengesampingkan gagasan memperoleh keselamatan oleh huhkum, Apakah kehidupan Anda merupakan satu kehidupan didalam mana tuntutan-tuntutan benar hukum itu dipenuhi? Jika tidak, mengapa? Alasan-alasan pincang apakah yang Anda sedang gunakan untuk memaafkan sikap anda?

Selasa, 17 Agustus 2010

Minggu, 22 Agustus 2010

Kemerdekaan Dari Penghukuman

“demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang hidup bukan menurut daging, melainkan menurut Roh.” (Roma 8:1, KJV). Apakah artinya “tidak ada penghukuman?” Tidak ada penghukuman dari apa? Dan mengapakah ini merupakan kabar baik?

“Dalam Kristus Yesus” adalah sebuah anak kalimat yang lazim dalam tulisan-tulisan Paulus. Seseorang ada “dalam” Kristus Yesus berarti dia telah menerima Kristus sebagai Juruselamatnya. Orang tersebut percaya pada-Nya secara mutlak dan telah mengambil keputusan untuk menjadikan pola hidup Kristus sebagai pola hidupnya. Hasilnya adalah sebuah kesatuan pribadi yang erat dengan Kristus.
“Dalam Kristus Yesus” bertentangan dengan “dalam daging.” Keadaan ini juga bertentangan dengan pengalaman yang dirinci dalam pasal 7, dimana Paulus menggambarkan orang yang dibawah penghukuman sebelum penyerahan dirinya kepada Kristus itu sebagai karnal, artinya dia adalah seorang hamba dosa. Orang itu ada dibawah penghukuman maut (ay. 11,13,14). Dia melayani “hukum dosa” (ay. 23,25). Orang ini ada dalam sebuah keadaan celaka yang sangat mengerikan (ay. 24).
Tetapi kemudian orang tersebut berserah kepada Yesus, sebuah perubahan yang segera telah terjadi dalam pilihannya terhadap Allah. Sebelumnya terhukum sebagai seorang pelanggar hukum, tapi kini orang tersebut berdiri sempurna dihadapan Allah, berdiri seakan-akan dia tidak pernah berbuat dosa, karena kebenaran Yesus Kristus sepenuhnya membungkus dia. Tidak ada lagi penghukuman, bukan karena orang itu tidak bersalah, tanpa dosa, atau layak mendapatkan hidup kekal (bukan karena dia), melainkan karena catatan kehidupan Yesus yang sempurna mengambil tempat orang tersebut; itulah sebabnya, tidak ada lagi penghukuman. Tetapi kabar baik itu tidak berakhir disitu.

Apakah yang membebaskan seseorang dari perhambaan dosa? Roma 8:2.

“Roh, yang memberi hidup” disini berarti rencana Kristus untuk keselamatan manusia, bertentangan dengan “hukum dosa dan hukum maut,” yang dijabarkan dalam pasal 7 sebagai hukum yang memerintah atas dosa, yang akhirnya adalah maut. Sebaliknya, hukum Kristus membawa kehidupan dan kemerdekaan.
“Setiap jiwa yang enggan menyerahkan dirinya kepada Allah adalah dibawah pengendalain kuasa yang lain. Ia bukanlah milik-Nya sendiri. Ia mungkin berbicara tentang kemerdekaan, tetapi ia berada dalam perhambaan yang paling hina…. Meskipun ia memuji dirinya bahwa ia sedang mengikuti bisikan kalbu dari pertimbangannya sendiri, namun ia menaati kehendak putra kegelapan. Kristus datang untuk memutuskan belenggu perhambaan dosa dari jiwa.”
-Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 80.

Pelajaran 9, 21-27 Agustus 2010

Kemerdekaan Dalam Kristus

Sabat Petang

BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Roma 8:1-17

AYAT HAFALAN: “demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus, yang hidup bukan menurut daging, melainkan menurut Roh.” (Roma 8:1, KJV)

Roma 8 adalah jawaban Paulus untuk Roma 7. Dalam Roma 7 Paulus berbicara tentang frustrasi, kegagalan, dan penghukuman; dalam Roma 8, penghukuman tidak ada lagi, digantikan dengan kemerdekaan dan kemenangan melalui Yesus Kristus.
Paulus Berkata dalam Roma 8 bahwa jika Anda menolak untuk menerima Yesus Kristus, pengalaman celaka dalam Roma 7 akan menjadi bagianmu. Anda akan menjadi hamba dosa, tidak sanggup melakukan apa yang Anda pilih untuk lakukan. Dalam Roma 8 dia berkata bahwa Kristus menawarkan Anda kelepasan dari dosa dan kemerdekaan untuk melakukan kebaikan yang Anda ingin lakukan namun tubuh dagingmu tidak izinkan.
Paulus melanjutkan, menjelaskan bahwa kemerdekaan ini dibeli dengan harga tak ternilai. Kristus putra Allah menjadi manusia, satu-satunya cara Dia bisa berhubungan dengan kita, dapat menjadi teladan sempurna kita, dan dapat menjadi Pengganti yang mati menggantikan kita. Dia datang “serupa dengan daging yang dikuasai dosa” (ay. 3). Hasilnya, tuntutan-tuntutan benar hukum itu dapat digenapi dalam diri kita (ay. 4). Dengan kata lain, Kristus membuat kemenangan atas dosa serta penggenapan tuntutan-tuntutan positif hukum itu hal yang mungkin.
Karena keterbatasan halaman, kita akan membahas hanya 17 ayat pertama dari Roma 8. Bila waktu mengizinkan, baca sisa pasal itu, yang dipenuhi dengan jaminan-jaminan indah kasih Allah. Ayat-ayat ini secara luar biasa menunjukkan kita kepada pengharapan yang kita harus miliki sebagai umat yang “lebih daripada orang-orang yang menang oleh Dia yang telah mengasihi kita” (ay. 37) dan yang karena kasih itu “tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua” (ay. 32).

Senin, 16 Agustus 2010

Jumat, 20 Agustus 2010

PELAJARI SELANJUTNYA: Baca Ellen G. White, “The Perfect Law,” hlm.212-215; “A Divine Sin Bearer,” hlm.308-310, dalam Selected Messages, jld.1; “Penyembuhan Jiwa,” hlm.59-76; “Pentingnya Mencari Pengetahuan yang Benar,” hlm. 417-424, dalam Membina Keluarga Sehat; “Christ’s Victory as Complete as Adam’s Failure,” hlm. 323, dalam My Life Today.

Tidak ada keamanan atau pun ketenangan serta pembenaran dalam pelanggaran terhadap hukum. Manusia tidak bisa berharap untuk berdiri tanpa salah dihadapan Allah, dan berdamai dengan Dia melalui jasa-jasa Kristus, sementara dia terus hidup dalam dosa.” – Ellen G. White, Selected Messages, jld.1, hlmy. 213.

“Paulus ingin saudara-saudaranya melihat bahwa kemuliaan besar Juruselamat yang mengampuni dosa telah memberikan makna kepada seluruh masyarakat Yahudi. Dia ingin mereka melihat juga bahwa pada waktu Kristus datang ke dunia ini, dan mati sebagai korban manusia, lambang-lambang telah digenapi.

“setelah Kristus mati disalib sebagai korban penghapus dosa, maka hukum upacara itu tidak berdaya lagi. Namun hukum upacara itu berkaitan dengan hukum moral, dan mulia adanya. Padanya ada cap Ilahi, dan menyatakan kesucian, keadilan, dan kebenaran Allah. Dan jika pelayanan dispensasi yang dihapuskan itu adalah mulia, betapa lebih mulialah kenyataan itu seharusnya, ketika Kristus dinyatakan, memberikan Roh-Nya yang memberi hidup, menyucikan, kepada semua orang yang percaya.” – Ellen G. White Comments, SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1095.



PERTANYAAN-PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:

  1. Siapakah menurut anda manusia di Roma 7? Paulus, sebelum atau setelah pertobatan? Atau apakah pasal ini berbicara tentang sesuatu yang sama sekali berbeda? Apakah alasan jawaban Anda? Diskusikan jawaban-jawaban yang di berikan di kelas.
  2. Bagaimanakah Anda menerangkan kenyataan bahwa orang Kristen yang telah dibabtis dan lahir baru pun masih bergumul dengan dosa? Bukankah seharusnya secara otomatis kita mengalahkan segala sesuatu? Atau akankah kita terus berdosa? Atau apakah jawabannya ada diantara dua hal tersebut?
  3. Potensi bahaya-bahaya apakah yang timbul dari pandangan bahwa bagaimanapun juga sebagai orang-orang Kristen kita akan terus berdosa, terus jatuh, serta terus melanggar hukum Allah? Di sisi lain, potensi bahaya apakah yang muncul dari pandangan bahwa sebagai orang-orang Kristen, bagaimanapun juga, kita harus mengalahkan setiap perbuatan salah dalam hidup kita, setiap pikiran yang salah, setiap kecendrungan yang salah – jika tidak, kita tidak diselamatkan?
  4. Akhirnya, apapun pendapat orang tentang manusia di Roma 7, janji-janji apakah yang bisa kita ambil dari Roma 7 untuk diri kita, yang menolong kita mengerti apa artinya menjadi pengikut Yesus?

Kamis, 19 Agustus 2010

Dilepaskan Dari Maut

Baca Roma 7:21-23. Pernahkan Anda mengalami pergumulan yang sama dalam kehidupan Anda, bahkan sebagai seorang Kristen?

Dalam ayat ini, Paulus menyamakan hukum dalam anggota-anggota (tubuhnya) dengan hukum dosa. “Dengan tubuh insaniku,” kata Paulus, dia melayani “hukum dosa” (Roma 7:25). Tetapi melayani dosa dan menuruti hukumnya berarti maut (lihat ayat 10,11,13). Jadi, tubuh insaninya – yang sementara berfungsi dalam penurutan kepada dosa – dengan tepat dapat disebut sebagai “tubuh maut ini.”
Hukum akal budi adalah hukum Allah, penyataan [wahyu] Allah akan kehendak-Nya. Setelah diyakinkan Roh Kudus, Paulus memusatkan diri pada hukum ini. Akal budinya bertekad untuk memeliharanya, tatapi pada waktu ia coba, ia tidak bisa, karena tubuh insaninya ingin melakukan dosa. Siapakah yang tidak merasakan pergumulan yang sama? Dalam akal budimu Anda tahu apa yang Anda harus lakukan, tatapi sifat daging Anda menuntut hal lainnya.

Bagaimanakah kita bisa di bebaskan dari situasi sulit dimana kita berada? Roma 7:25,25.________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Beberapa orang bertanya mengapa, setelah mencapai puncak gemilang dalam ucapan ‘Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Tuhan kita,” Paulus harus sekali lagi menyebutkan pergumulan diri dari mana dia telah dilepaskan. Ada yang memahami ungkapan syukur itu sebagai sebuah seruan sisipan belaka. Mereka percaya bahwa seruan seperti itu mengikuti secara wajar pertanyaan, “siapakah yang melepaskan?” mereka beranggapan bahwa sebelum lanjut dengan diskusi panjang tentang kelepasan gemilang (Roma 8), Paulus merangkumkan apa yang telah dikatakannya dalam ayat-ayat sebelumnya dan mengakui sekali lagi adanya konflik melawan kuasa-kuasa dosa.
Ada yang berpendapat bahwa yang Paulus maksudkan “aku sendiri” adalah “berusaha sendiri, tidak melibatkan Kristus.” Bagaimanapun ayat-ayat itu dimengerti, satu hal yang harus tetap jelas: jika ditinggal sendiri, tanpa Kristus, kita tak berdaya melawan dosa. Bersama Kristus kita mempunyai hidup baru di dalam Dia, hidup dimana – sekalipun diri masih terus muncul - janji-janji kemengangan menjadi milik kita jika kita memilih untuk memintanya. Sama seperti tak seorang pun dapat bernapas untuk Anda atau batuk serta bersin untuk Anda, demikian juga tak seorang pun dapat memilih bagi Anda untuk berserah kepada Kristus. Hanya Anda yang dapat membuat pilihan itu. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan bagi diri Anda kemenagan-kemenangan yang telah dijanjikan kepada kita di dalam Yesus.

Rabu, 18 Agustus 2010

Manusia Roma 7

“jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Roma 7:16,17). Pergumulan apakah yang ditampilkan dalam ayat-ayat ini?

Menggunakan hukum sebagai sebuah cermin, Roh Kudus meyakinkan seseorang bahwa dia sedang tidak berkenan pada Allah oleh tidak memenuhi tuntutan-tuntutan hukum. Melalui usaha-usaha untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut, orang berdosa tersebut menunjukkan dia setuju bahwa hukum itu baik.

Pokok-pokok penting apakah yang telah dibuat Paulus yang ditekankannya lagi? Roma 7:18-20

Untuk meyakinkan seseorang perihal kebutuhannya akan Kristus, Roh Kudus sering menuntun orang tersebut melalui sebuah tipe pengalaman “perjanjian lama.” Elln G. White melukiskan pengalaman Israel sebagai berikut: “bangsa itu tidak menyadari kekejian hati mereka, dan bahwa tanpa Kristus adalah mustahil bagi mereka untuk menurut hukum Allah; dan dengan mudah mereka mengadakan perjanjian dengan Allah. Merasa bahwa mereka sanggub untuk meneguhkan kebenaran mereka sendiri, mereka berkata, ‘Segala Firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.’ Keluaran 24:7… tetapi baru saja beberapa pekan berlalu mereka telah melanggar janji mereka dengan Allah, dan bersujud untuk menyembah satu patung tuangan. Mereka tidak dapat mengharapkan pengasihan Allah melalui satu perjanjian yang telah mereka langgar; dan sekarang, menyadari akan kekejian hati mereka dan kebutuhan mereka akan keampunan, mereka dituntun untuk merasakan kebutuhan Juruselamat yang dinyatakan dalam perjanjian Abraham.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld.1, hlm. 441,442.
Sayangnya, dengan gagal memperbarui penyerahan mereka setiap hari kepada Kristus, banyak orang Kristen yang kenyataannya, sedang melayani dosa, sekalipun mereka benci untuk mengakuinya. Mereka berdalih bahwa, sebenarnya mereka sendang melalui sebuah pengalaman normal penyucian, hanya saja mereka masih harus menempuh perjalanan panjang. Demikianlah, gantinya mengakui dosa kepada Kristus serta meminta Dia memberikan kemenangan atas dosa-dosa itu, mereka bersembunyi dibelakang Roma 7, yang menurut mereka, mengatakan pada mereka bahwa tidak mungkin untuk berbuat benar. Kenyataannya, pasal ini berkata bahwa adalah tidak mungkin untuk melakukan kebenaran bila seseorang diperbudak dosa, tetapi kemenangan itu mungkin didalam Kristus.

Apakah Anda sedang memiliki kemenangan terhadap diri dan dosa sebagaimana dijanjikan Kristus pada kita? Jika tidak, mengapa? Pilihan-pilihan salah apakah yang Anda, dan hanya Anda, sedang buat?

Selasa, 17 Agustus 2010

Hukum Yang Kudus

Baca Roma 7:12. Bagaimanakah kita mengetahui ayat ini dalam konteks apa yang sudah dibahas Paulus?

Oleh karena orang Yahudi memelihara hukum, Paulus meninggikannya dalam berbagai cara. Hukum itu baik dalam apa yang dilakukannya, tetapi hukum tidak bisa melakukan apa yang tidak pernah dicanangkan untuk dilakukannya, yaitu menyelamatka kita dari dosa. Untuk itu kita perlu Yesus, karena hukum – entah itu seluruh hukum Yahudi atau khususnya hukum moral – tidak bisa memberikan keselamatan. Yang bisa hanya Yesus dan kebenaran-Nya, yang datang kepada kita oleh iman.

Apakah yang Paulus persalahkan dari keadaan “maut” nya, dan apakah yang dia bela? Mengapa perbedaan itu penting? Roma 7:13.

Dalam ayat ini, Paulus menampilkan “hukum” dalam makna yang sebaik mungkin. Dia memilih untuk mempersalahkan dosa, bukan hukum, untuk keadaan dosanya yang mengerikan; yaitu, yang membangkitkan dalam dirinya “rupa-rupa keinginan” (ay.8). hukum itu baik, karena itu adalah standard Allah untuk perilaku, tetapi sebagai seorang berdosa, Paulus berdiri terhukum dihadapannya.

Mengapa dosa begitu berhasil menyatakan Paulus sebagai seorang yang sangat berdosa? Roma 7:14,15.

Karnal berarti bersifat daging. Jadi, Paulus membutuhkan Yesus Kristus. Hanya Yesus Kristus yang dapat menyingkirkan hukuman itu (Roma 8:1). Hanya Yesus Kristus yang dapat membebaskan dia dari perhambaan dosa.
Paulus menggambarkan dirinya sebagai “terjual di bawah kuasa dosa.” Dia adalah seorang hamba dosa. Dia tak punya kemerdekaan. Dia tidak dapat melakukan apa yang ingin dia lakukan. Dia coba melakukan apa yang dikatakan padanya oleh hukum yang baik itu, tetapi dosa tidak mengijinkannya.
Oleh ilustrasi ini, Paulus berusaha menunjukkan pada orang Yahudi kebutuhannya akan Kristus. Dia telah menunjukkan bahwa kemenangan dimungkinkan hanya di bawah kasih karunia (Roma 6:14). Pemikiran yang sama ini ditekankan kembali dalam Roma 7. Hidup dibawah ”hukum Taurat” berarti perhambaan terhadap dosa, tuan yang tak berbelas kasihan.

Apakah yang telah menjadi pengalaman Anda sendiri dengan bagaimana dosa itu memperhamba? Pernahkah Anda coba bemain-main dengan dosa, menyangka bahwa Anda dapat mengendalikannya semau Anda, tapi justru mendapati diri Anda berada dibawah majikan yang kejam dan tak berbelas kasihan itu? Selamat datang pada kenyataan! Jika demikian, mengapa, Anda harus menyerah kepada Yesus, dan mati terhadap diri setiap hari?

Senin, 16 Agustus 2010

Apakah Hukum Taurat itu Dosa?

Jika Paulus sedang berbicara tentang seluruh system hukum di Sinai, bagaimanakah dengan Roma 7:7, dimana secara khusus dia sebutkan salah satu dari Sepuluh Perintah itu? Bukankah ini mematahkan gagasan yang disepakati kemarin bahwa Paulus bukan membicarakan tentang penghapusan Sepuluh Perintah itu?
Jawabnya adalah tidak. Kembali kita harus mengingat bahwa kata Hukum itu bagi Paulus adalah seluruh sistem yang diperkenalkan di Sinai, yang mencakup hukum moral tetapi bukan terbatas pada hal itu saja. Dengan demikian, Paulus bisa saja mengutip dari Sepuluh Perintah itu, sebagaimana juga dari bagian lain seluruh sistem Yahudi, untuk menekankan maksudnya. Namun demikian, pada saat sistem itu telah berakhir pada kematian Kristus, hal itu tidak mencakup hukum moral, yang telah ada bahkan sebelum Sinai dan juga tetap ada sesudah Golgota.

Baca Roma 7:8-11. Apakah yang dikatakan Paulus disini tentang hubungan antara hukum dan dosa?

Allah menyatakan diri-Nya kepada orang Yahudi, dan mengatakan secara rinci apa yang benar dan apa yang salah dalam hal moral, sipil, tatacara, dan kesehatan. Dia juga menjelaskan hukuman akibat pelanggaran hukum tersebut. Pelanggaran terhadap kehendak Allah yang dinyatakan dalam ayat ini disebut dosa.
Makanya, Paulus menerangkan, dia tidak akan mengetahui bahwa mengingini itu dosa tanpa lebih dulu mendapat informasi tentang fakta tersebut oleh “hukum.” Karena dosa adalah pelanggaran akan kehendak Allah yang dinyatakan, bila kehendak yang dinyatakan itu tidak diketahui, maka tidak ada kesadaran akan dosa. Bila kehendak yang dinyakan itu diberitahukan kepada seseorang, orang itu akan mengetahui bahwa dia adalah seorang berdosa dan berada dibawah hukuman dan maut. Dalam pengertian ini, orang itu mati.
Dalam alur argumentasi paulus di ayat-ayat ini, Paulus berusaha membangun sebuah jembatan yang menuntun orang Yahudi – yang mengandalkan “hukum” – untuk melihat kristus sebagai kegenapannya. Dia sedang menunjukkan bahwa hukum itu diperlukan tetapi fungsinya terbatas. Hukum dimaksudkan untuk menunjukkan perlunya keselamatan; tidak pernah dimaksudkan sebagai sarana mendapatkan keselamatan tersebut.
Rasul Paulus, dalam menyampaikan pengalamannya, menyajikan sebuah kebenaran penting tentang usaha yang dilakukan dalam pertobatan. Dia berkata, ‘Dahulu aku hidup tanpa hukum taurat’ – dia tidak merasa tidak ada penghukuman, ‘akan tetapi sesudah datang perintah itu,’ pada waktu hukum Allah ditanamkan pada hati nuraninya, ‘dosa mulai hidup, sebaliknya aku mati.’ Lalu dia melihat dirinya sebagai seorang bedosa,dipersalahkan oleh hukum Ilahi. Perlu dicatat, Pauluslah yang mati bukan hukum itu.” – Ellen G. White Comments, The SDA Bible Commentary, jld. 6, hlm. 1076

Dalam hal apakah anda telah “mati” dihadapan hukum itu? Bagaimanakah dalam konteks tersebut Anda dapat apa yang Yesus telah lakukan bagi Anda oleh memberikan Anda suatu hidup baru di dalam Dia?

Minggu, 15 Agustus 2010

Terikat Kepada Hukum?

Baca Roma 7:1-6. Ilustrasi apakah yang Paulus gunakan di sini untuk menunjukkan pada pembacanya hubungan mereka dengan hukum, dan pelajaran apakah yang di buat dengan ilustrasi itu?

Ilustrasi Paulus dalam Roma 7:1-6 seakan rumit, tetapi sebuah analisa cermat terhadap ayat-ayat tersebut akan menolong kita mengikuti penalarannya.
Dalam konteks keseluruhan suratnya, Paulus sedang membahas seluruh sistem ibadah yang didirikan di Sinai; yang sering dimaksudkannya dengan kata hukum. Orang-orang Yahudi sukar menerima kenyataan bahwa sistem ini, yang diberikan kepada mereka oleh Allah, harus berakhir dengan datangnya Kristus. Inilah yang dibahas oleh Paulus – orang-orang Yahudi yang percaya masih belum siap meninggalkan apa yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Intinya, ilustrasi Paulus adalah sebagai berikut: seorang perempuan telah menikah dengan seorang laki-laki. Hukum mengikat dia terhadap laki-laki itu selama laki-laki itu hidup. Selama kehidupannya, perempuan itu tidak boleh menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Tetapi bila suaminya sudah mati, dia bebas dari hukum yang mengikat dia kepada suaminya itu (ay.3).

Bagaimanakah Paulus menerapkan ilustrasi hukum pernikahan ini pada sistem Yudaisme? Roma 7:4,5

Sebagaimana kematian suaminya membebaskan perempuan itu dari hukum suaminya, demikian juga kematian hidup lama dalam daging, melalui Yesus Kristus, membebaskan orang-orang Yahudi dari hukum yang selama ini mereka harus pelihara sampai Kristus menggenapi seluruh lambangnya.
Kini orang-orang Yahudi bebas untuk “menikah lagi.” Mereka di undang untuk menikah dengan Kristus yang telah bangkit dan dengan jalan itu menghasilkan buah untuk Allah. Ilustrasi ini merupakan satu lagi perangkat yang Paulus gunakan untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa mereka bebas untuk meninggalkan sistem kuno itu
Sekali lagi, dengan segala sesuatu yang Paulus dan Alkitab katakan tentang penurutan kepada Sepuluh Perintah itu, tidaklah masuk akal untuk menegaskan disini bahwa Paulus sedang mengajarkan orang-orang Yahudi yang telah percaya bahwa Sepuluh Perintah tidak lagi mengikat. Mereka yang menggunakan ayat-ayat ini untuk menekankan hal tersebut – bahwa hukum moral telah ditiadakan – sebenarnya bukan mau menekankan seluruh hukum itu; apa yang sesungguhnya mereka mau katakan adalah bahwa hanya Sabat hari ketujuh yang telah dihapuskan, bukan seluruh hukum tersebut. Memahami ayat-ayat tersebut sebagai ajaran bahwa perintah keempat telah dihapuskan atau diatasi atau digantikan dengan hari Minggu berarti memberi ayat-ayat tersebut suatu makna yang tidak pernah dimaksudkan.

Pelajaran 8, 14-20 Agustus 2010


Manusia Roma 7

Sabat Petang

BACA UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Roma 7

Ayat Hafalan : “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari Hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat” (Roma 7:6)

Sedikit saja pasal Alkitab yang telah menimbulkan pertentangan lebih daripada Roma 7. Tentang hal ini, SDA Bible Commentary berkata: “Arti dari ayat 14-25 telah menjadi salah satu persoalan yang paling di perbincangkan dalam seluruh kitab itu. Yang menjadi pertanyaan-pertanyaan utama adalah apakah gambaran pergumulan moral yang intensif tersebut adalah bersifat autobiografi, dan jika demikian, apakah ayat-ayat tersebut merujuk pada pengalaman Paulus sebelum atau sesudah dia bertobat. Kenyataan bahwa Paulus sedang berbicara tentang pergumulan pribadinya sendiri dengan dosa tampak jelas dari makna paling sederhana dari kata-katanya (lihat ayat 7-11; Ellen G. White Steps to Christ, hlm. 19; Testimonies for the Church, jld. 3, hlm. 457).
Adalah juga sangat benar bahwa dia sedang menggambarkan sebuah konflik yang rata-rata dialami oleh setiap jiwa yang dihadapkan dan disadarkan oleh tuntutan-tuntutan rohani hukum Allah yang suci.” – The SDA Bible Commentary, jld.6 hlm. 553.
Para pelajar Alkitab berbeda pendapat apakah Roma 7 adalah pengalaman paulus sebelum atau sesudah pertobatannya. Apapun pendapat seseorang yang penting dalam hati ini adalah kebenaran Yesus menutupi kita dan di dalam kebenaran-Nya kita berdiri sempurna dihadapan Allah, yang berjanji untuk menyucikan kita, memberikan kita kemenangan, dan menyelaraskan kita dengan “gambaran anak-Nya” (Roma 8:9). Inilah hal-hal penting yang perlu kita ketahui dan alami sementara kita berusaha menyebarkan “Injil Kekal” kepada “semua bangsa, dan suku, dan bahasa, dan kaum” (Wahyu 14:6).