Hubungan Dengan Orang Lain
"Janganlah kamu berutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat" (Roma 13:8). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Apakah artinya bahwa jika kita mengasihi, maka kita tidak wajib lagi menurut hukum Allah?
Sebagaimana Yesus dalam Khotbah di Atas Bukit, Paulus di sini menguraikan aturan-aturan hukum tersebut, menunjukkan bahwa kasih harus menjadi kuasa pendorong di belakang segala yang kita lakukan. Karena hukum adalah tulisantabiat Allah, dan Allah adalah kasih, maka mengasihi berarti menggenapi hukum itu. Namun, Paulus tidak sedang menggantikan aturan-aturan rinci yang tepat dari hukum itu dengan standar kasih yang tidak jelas, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian orang Kristen. Hukum moral masih mengikat, karena, sekali lagi, itulah yang menunjukkan dosa—dan siapakah yang bisa menyangkal realitas dosa? Namun demikian, hukum itu benar-benar dapat dipelihara hanya dalam konteks kasih. Ingatlah, sebagian orang yang menyalibkan Yesus juga kemudian kembali ke rumahnya untuk memelihara hukum!
Perintah-perintah yang manakah yang Paulus singgung sebagai contoh untuk menggambarkan prinsip kasih dalam memelihara hukum? Mengapa perintah-perintah tersebut secara khusus? Roma 13:9, 10.
Menariknya, faktor kasih bukanlah sebuah prinsip yang baru diperkenalkan. Oleh mengutip Imamat 19:18, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," Paulus menunjukkan bahwa prinsipnya adalah sebuah bagian terpadu dari sistem Perjanjian Lama. Kembali Paulus merujuk kepada Perjanjian Lama untuk mendukung khotbah Injilnya.Ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini bahwa Paulus sedang mengajarkan bahwa hanya beberapa perintah yang disebutkan di sini saja yang masih berlaku. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa orang-orang Kristen boleh tidak menghormati orangtua mereka, menyembah berhala, dan mempunyai allah lain di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak.
Perhatikan, Paulus sedang membahas bagaimana bersikap satu sama lain. Dia sedang membahas tentang hubungan antar pribadi, itulah sebabnya dia menyebutkankhususperintah-perintahyangberpusat padahubunganini.Argumennya tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan perintah lainnya dari hukum itu. (Lihat Kisah 15:20; 1 Tes. 1:9; 1 Yoh. 5:21). Lagipula, sebagaimana para penulis Perjanjian Baru tunjukkan, oleh menunjukkan kasih kepada orang lain, kita menunjukkan kasih kepada Allah (Mat. 25:40; 1 Yoh. 4:20, 21).
Pikirkan tentang hubunganAnda denganAllah dan bagaimana itu mencerminkan hubungan Anda dengan orang lain. Berapa besarkah faktor kasih dalam hubungan tersebut? DapatkahAnda belajar mengasihi orang lain sebagaimana Allah mengasihi kita? Apakah yang menghalangi Anda melakukannya?
"Janganlah kamu berutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat" (Roma 13:8). Bagaimanakah kita memahami ayat ini? Apakah artinya bahwa jika kita mengasihi, maka kita tidak wajib lagi menurut hukum Allah?
Sebagaimana Yesus dalam Khotbah di Atas Bukit, Paulus di sini menguraikan aturan-aturan hukum tersebut, menunjukkan bahwa kasih harus menjadi kuasa pendorong di belakang segala yang kita lakukan. Karena hukum adalah tulisantabiat Allah, dan Allah adalah kasih, maka mengasihi berarti menggenapi hukum itu. Namun, Paulus tidak sedang menggantikan aturan-aturan rinci yang tepat dari hukum itu dengan standar kasih yang tidak jelas, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian orang Kristen. Hukum moral masih mengikat, karena, sekali lagi, itulah yang menunjukkan dosa—dan siapakah yang bisa menyangkal realitas dosa? Namun demikian, hukum itu benar-benar dapat dipelihara hanya dalam konteks kasih. Ingatlah, sebagian orang yang menyalibkan Yesus juga kemudian kembali ke rumahnya untuk memelihara hukum!
Perintah-perintah yang manakah yang Paulus singgung sebagai contoh untuk menggambarkan prinsip kasih dalam memelihara hukum? Mengapa perintah-perintah tersebut secara khusus? Roma 13:9, 10.
Menariknya, faktor kasih bukanlah sebuah prinsip yang baru diperkenalkan. Oleh mengutip Imamat 19:18, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," Paulus menunjukkan bahwa prinsipnya adalah sebuah bagian terpadu dari sistem Perjanjian Lama. Kembali Paulus merujuk kepada Perjanjian Lama untuk mendukung khotbah Injilnya.Ada yang berpendapat berdasarkan ayat ini bahwa Paulus sedang mengajarkan bahwa hanya beberapa perintah yang disebutkan di sini saja yang masih berlaku. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa orang-orang Kristen boleh tidak menghormati orangtua mereka, menyembah berhala, dan mempunyai allah lain di hadapan Tuhan? Tentu saja tidak.
Perhatikan, Paulus sedang membahas bagaimana bersikap satu sama lain. Dia sedang membahas tentang hubungan antar pribadi, itulah sebabnya dia menyebutkankhususperintah-perintahyangberpusat padahubunganini.Argumennya tentu saja tidak bisa dijadikan alasan untuk meniadakan perintah lainnya dari hukum itu. (Lihat Kisah 15:20; 1 Tes. 1:9; 1 Yoh. 5:21). Lagipula, sebagaimana para penulis Perjanjian Baru tunjukkan, oleh menunjukkan kasih kepada orang lain, kita menunjukkan kasih kepada Allah (Mat. 25:40; 1 Yoh. 4:20, 21).
Pikirkan tentang hubunganAnda denganAllah dan bagaimana itu mencerminkan hubungan Anda dengan orang lain. Berapa besarkah faktor kasih dalam hubungan tersebut? DapatkahAnda belajar mengasihi orang lain sebagaimana Allah mengasihi kita? Apakah yang menghalangi Anda melakukannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar