Baca Roma 7:1-6. Ilustrasi apakah yang Paulus gunakan di sini untuk menunjukkan pada pembacanya hubungan mereka dengan hukum, dan pelajaran apakah yang di buat dengan ilustrasi itu?
Ilustrasi Paulus dalam Roma 7:1-6 seakan rumit, tetapi sebuah analisa cermat terhadap ayat-ayat tersebut akan menolong kita mengikuti penalarannya.
Dalam konteks keseluruhan suratnya, Paulus sedang membahas seluruh sistem ibadah yang didirikan di Sinai; yang sering dimaksudkannya dengan kata hukum. Orang-orang Yahudi sukar menerima kenyataan bahwa sistem ini, yang diberikan kepada mereka oleh Allah, harus berakhir dengan datangnya Kristus. Inilah yang dibahas oleh Paulus – orang-orang Yahudi yang percaya masih belum siap meninggalkan apa yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam hidup mereka.
Intinya, ilustrasi Paulus adalah sebagai berikut: seorang perempuan telah menikah dengan seorang laki-laki. Hukum mengikat dia terhadap laki-laki itu selama laki-laki itu hidup. Selama kehidupannya, perempuan itu tidak boleh menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Tetapi bila suaminya sudah mati, dia bebas dari hukum yang mengikat dia kepada suaminya itu (ay.3).
Bagaimanakah Paulus menerapkan ilustrasi hukum pernikahan ini pada sistem Yudaisme? Roma 7:4,5
Sebagaimana kematian suaminya membebaskan perempuan itu dari hukum suaminya, demikian juga kematian hidup lama dalam daging, melalui Yesus Kristus, membebaskan orang-orang Yahudi dari hukum yang selama ini mereka harus pelihara sampai Kristus menggenapi seluruh lambangnya.
Kini orang-orang Yahudi bebas untuk “menikah lagi.” Mereka di undang untuk menikah dengan Kristus yang telah bangkit dan dengan jalan itu menghasilkan buah untuk Allah. Ilustrasi ini merupakan satu lagi perangkat yang Paulus gunakan untuk meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa mereka bebas untuk meninggalkan sistem kuno itu
Sekali lagi, dengan segala sesuatu yang Paulus dan Alkitab katakan tentang penurutan kepada Sepuluh Perintah itu, tidaklah masuk akal untuk menegaskan disini bahwa Paulus sedang mengajarkan orang-orang Yahudi yang telah percaya bahwa Sepuluh Perintah tidak lagi mengikat. Mereka yang menggunakan ayat-ayat ini untuk menekankan hal tersebut – bahwa hukum moral telah ditiadakan – sebenarnya bukan mau menekankan seluruh hukum itu; apa yang sesungguhnya mereka mau katakan adalah bahwa hanya Sabat hari ketujuh yang telah dihapuskan, bukan seluruh hukum tersebut. Memahami ayat-ayat tersebut sebagai ajaran bahwa perintah keempat telah dihapuskan atau diatasi atau digantikan dengan hari Minggu berarti memberi ayat-ayat tersebut suatu makna yang tidak pernah dimaksudkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar