Bahan Pelajaran Sekolah Sabat dapat dibuka disini. untuk mencari tanggal yang anda inginkan cari di kotak serch.

Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan padamu.

Cara berbagi Pelajaran Sekolah Sabat ke teman Facebook
Klick Disini

Selasa, 24 Agustus 2010

Kamis, 2 September 2010

SANDUNGAN

“jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguh pun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman” (Roma 9:30-32). Apakah pekabaran ayat ini, dan, lebih penting lagi, bagaimanakah kita mengerti pekabaran ini, yang dituliskan pada satu waktu dan tempat tertentu, serta menerapkan prinsip-prinsipnya pada kita di zaman ini? Bagaimanakah kita bisa mencegah diri melakukan kesalahan-kesalahan yang sama dalam konteks kita seperti yang dilakukan orang Israel di zaman mereka?

Dengan kata-kata yang tidak bisa di salah mengerti, Paulus menerangkan kepada orang sebangsanya mengapa mereka kehilangan sesuatu yang Allah mau mereka miliki, dan lebih dari pada itu, sesuatu yang sebenarnya sedang mereka kejar tetapi tidak tercapai.
Menariknya, orang-orang bangsa lain yang telah diterima Allah tidak berjuang keras untuk perkenanan tersebut. Mereka selama ini telah mengejar kepentingan dan tujuan mereka sendiri pada saat pekabaran Injil itu datang kepada mereka. Memahami nilai Injil itu, mereka menerimanya. Allah menyatakan mereka benar karena mereka menerima Yesus Kristus sebagai Pengganti mereka. Ini adalah sebuah transaksi iman.
Masalah Israel adalah mereka tersandung pada sebuah batu sandungan (lihat Rm. 9:33). Beberapa, tidak semua (Lihat Kisah 2:41), telah menolak untuk menerima Yesus dari Nazaret sebagai Mesias yang diutus Allah. Ia tidak memenuhi harapan-harapan mereka dari Seorang Mesias; makanya, pada saat Dia datang, mereka menolak Dia.
Sebelum pasal ini berakhir, Paulus mengutip lagi sebuah ayat Perjanjian Lama: “Seperti ada tertulis: ‘sesungguhnya, aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan’” (Roma 9:33). Dalam ayat ini Paulus kembali menunjukkan betapa pentinggnya iman yang sejati itu di dalam rencana keselamatan (Lihat juga 1 Pet. 2:6-8). Sebuah batu sandungan? Namun, barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan mendapat malu? Ya, bagi banyak orang, Yesus adalah sebuah batu sandungan, tetapi bagi mereka yang mengenal-Nya, dan mengasihi-Nya, Dia adalah suatu jenis lain batu karang, “Gunung Batu Keselamatan” (Mzm. 8927).

Pernahkah Anda dapati Yesus sebagai suatu “batu sentuhan” atau suatu “batu sandungan”? Jika ya, dalam cara apa? Maksudnya, apakah yang Anda sedang lakukan yang menggiring Anda pada situasi tersebut? Bagaimanakah Anda keluar dari keadaan itu, dan apakah yang telah Anda pelajari sehingga diharapkan Anda tidak akan pernah lagi mendapati diri anda dalam jenis hubungan yang bertentangan dengan Yesus?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar